Perihal Kematian

Posted on Updated on

Majulah seorang pria tua yang sangat tua dalam waktu namun tidak dengan semangat hidupnya. Ia lantas bertanya perihal kematian.

Maka sang guru pun memberikan penjelasan:

Hadapi perjalanan hidup itu dengan tidak menoleh kepada ketakutan akan kematian, karena kita pasti akan mati. Dan jangan pula kau mendongak hingga lupa akan garis syariat, dimana semua tindakan dan pengabdian di dasari oleh ikhlas kepada Tuhan semata.

Bila engkau memasukkan pengetahuan kedalam kematian maka hatimu akan kaku oleh suhu yang membeku. Namun dengan keyakinan syariat yang dalam sudah tentulah dirimu menjadi cerdas dan bersiap-siap dalam sambutan.

Sungguh sadarkanlah bagi dirimu karena sebelumnya bisa menyelami rahasia kematian. Karena kematian itu sangat dekat di helai urat nadimu. Tetapi betapa engkau akan jauh bisa menemukan dia ketika usaha yang terderai menjadikan kehampaan malam yang sunyi dan mimpi belaka.

Manusia itu sungguh tidak berdaya bila dihadapan kematian dan bukti ketidakberdayaan itu bisa dilihat nyata sejak usia tuanya. Ada yang pikun dan banyak juga yang mengalami kelumpuhan, sedangkan kematian akan jauh lebih dahsyat hukumannya bila dibandingkan dalam ketakutan.

Apakah dia datang ketika usia tua? Atau hanya menghampiri yang muda agar lebih ringan dalam timbangan dosa? Apakah bisa datangnya karena terpaksa atau memang seharusnya demikian? Padahal semuanya telah menjadi benar karena ia akan tiba tanpa pemberitahuan dan kerjasama.

Dalam bisikan alam bawah sadarnya maka manusia memendam pengetahuan tentang alam baka. Namun dalam kenikmatan yang dijalani hidup maka ia tidak menyadari bunga di taman akan hilang dalam bergantinya musim semi ke musim gugur. Mereka terus terlena dan terbuai keindahan musim bunga walau hanya sesaat. Dan kesempatan mengabadikannya dalam album potret kebaikan sempat pula terlupakan karena kameranya menjadi rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi. Ia telah kaku dan tidak lagi bergerak dalam tingkah polah yang seperti dulu.

Memang sulit menggambarkan tentang rasa kematian, karena sakitnya yang dirasakan oleh domba saat dikuliti hidup-hidup belumlah sepadan. Gemetarmu saat berhadapan dengan al-Maut maka takutnya seumpama tikus yang terbaring hidup dalam santapan elang di jamuan makan siang.

Lantas apakah sebenarnya kematian jika bukan berpisahnya ruh dari jasad dan pergi bersama al-Maut dalam rupa keberangkatan yang beragam. Maka ada yang tenang dan tersenyum namun tidak sedikit pula yang muram dan penuh erangan kesakitan karena telah membuat benci sang Izrail.

Kemudian bagaimana jadinya bila dalam kematian selain menjadi buih yang berada di tengah samudra yang luas dan berkekuatan besar untuk menghancurkan dalam sekejab dan tanpa pemberitahuan? Sedangkan pantai yang diharapkan indah dan jelas terlihat tidak bisa dipandang dengan mata telanjang. Sebaliknya hanya bisa dirasakan oleh mata batin dalam kalbu yang khusyuk.

Kematian adalah pungguk yang merindukan bulan bagi jasad bila selama hidup hanya hidup untuk makan sedangkan makan harusnya untuk hidup. Namun bagi ruh adalah bagai musyafir yang menemukan telaga bening di gurun sahara.
Percayalah bahwa mati bukan mimpi karena itu adalah kenyataan yang menunggu terbuka cadarnya. Sebab oleh Tuhan telah diciptakan sebelumnya alam kubur, alam penggelantungan dan alam barzah setelah kematian seorang manusia.

Kematian juga bukanlah sebuah akhir dari perjalanan karena akan ada jalan yang sangat panjang dan jauh kedepan sebagai langkah yang harus dijalani. Disana juga akan banyak rintangan bagi yang kufur dan tidak ada hambatan bagi yang beriman pada aturan Pencipta.

Kini apakah engkau tidak mau menjadikan hidupmu sekarang sebagai karunia untuk negeri-negeri berikutnya setelah mati?

Maka engkaulah yang bisa menjawabnya.

Yogyakarta, 14 Mei 2009
Mashudi Antoro (Oedi`)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s