Keutamaan Kaum Wanita: Menuju Keshalihan

Segala pujian hanya milik Allah SWT, Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Tuhan yang menjadikan wanita sebagai belahan jiwa bagi kaum laki-laki. Shalawat beserta salam tak lupa pula tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat, dan alim ulama yang shalih.

Amma ba`du,

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah” (HR. Muslim)

Siapakah dia dari kaum wanita yang tak menginginkan hidup dalam masa keshalihan? Dan siapa pula dari kaum laki-laki yang tidak menjadikan cita-citanya adalah dapat bersanding hidup dengan istri yang shalihah?

Itulah pertanyaan yang akan selalu menjadi harapan dan keinginan dari setiap generasi manusia, asalkan ia masih memiliki akal dan pikiran yang waras. Sehingga tiada ungkapan yang paling tepat dan lebih indah daripada firman Allah SWT yang termaktub di dalam Al-Qur`an surat An-Nisaa` [4] ayat 34 berikut ini;

“….. Maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[1] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[2]. …..”
[1]  Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[2]  Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

Keshalihan disini adalah bentuk sikap yang berkaitan dengan karakteristik yang melekat pada diri seorang wanita. Seperti seseorang yang bersikap istiqamah dalam agama dan berbuat kebajikan. Karena tidak akan ada kebaikan tanpa diiringi dengan sikap yang istiqamah dalam agama, atau tak akan ada sebuah keshalihan tanpa perbuatan baik dan usaha untuk mengamalkannya dalam setiap kehidupan sehari-hari.

Dalam berumahtangga, maka seorang wanita (istri) agar bisa mencapai tahapan shalihah maka ia harus mampu menjaga hal-hal yang semestinya selama suami tidak ada di rumah. Contohnya:

Pertama, menjaga diri dari perbuatan zina sehingga suami tidak memperoleh aib karena perzinaan istrinya.

Kedua, menjaga harta suami dari pembelajaan yang kurang bermanfaat dan berlebih-lebihan.

Ketiga, menjaga rumah dari hal-hal yang tidak semestinya. Tentang hal ini, Rasulullah SAW bersabda; “Sebaik-baik perempuan adalah istri yang jika kamu melihatnya, ia akan membahagiakanmu; jika kamu menyuruhnya melakukan sesuatu, ia akan menaatimu; dan jika kamu pergi, ia akan menjaga harta dan harga dirimu”

Jadi wanita yang shalihah-lah yang akan senantiasa diidam-idamkan oleh kaum laki-laki. Bahkan syurga pun merindukan mereka untuk menjadi tamu agungnya. Hanya perempuan yang shalihah-lah yang akan senantiasa berkilauan dalam gemerlap kehidupan dunia modern. Ia akan menyalakan cahaya kemuliaan meski banyak pihak yang ingin memadamkan dan meleyapkan kemilaunya itu. Dan ini terbukti dengan pertentangan antara penganjur hijab dan penentangnya.

Saudaraku yang budiman, dalam kesempatan ini saya ingin turut berpartisipasi dalam membentuk kaum perempuan yang berakhlak mulia dan berperilaku shalihah. Usaha ini dilakukan semata-mata hanya untuk mencerahkan pandangan mata dan hati mereka. Mendorong siapa saja yang ingin memperbaiki diri dan berniat menjadi seorang yang menjadi idaman mereka yang beriman. Karena sejatinya antara laki-laki dan perempuan haruslah saling melengkapi dalam kebajikan.

Berikut diberikan beberapa contoh keutamaan kaum wanita yang menjadi peluang besar bagi mereka untuk menjadi seorang yang shalihah. Diantaranya sebagai berikut;

1. Kesetaraan perempuan dan laki-laki

Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Darimi dan Ibn Majah)

Hadits ini menunjukkan tingkat persamaan antara kaum perempuan dengan laki-laki, serta kedudukan tinggi perempuan di dalam pandangan Islam. Sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam hal ibadah dan berperilaku baik yang benar sesuai syariat agama. Bahkan inilah pintu gerbang pertama bagi kaum perempuan untuk merengguh harkat dan martabat yang mulia disisi Allah SWT. Menjadikan mereka sebagai seorang hamba yang shalihah baik di dunia maupun kelak di yaumil akhir.

2. Perintah bersikap baik terhadap kaum perempuan

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda; “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha untuk meluruskannya, tulang itu akan patah. Jika engkau membiarkannya, tulang itu tetap bengkok. Oleh karena itu, jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menyoroti tentang kelemahan alamiah seorang perempuan. Dalam dirinya ada kebengkokan naluriah yang tidak bisa diluruskan oleh siapapun. Namun, demikianlah itu adalah tuntutan kebijaksanaaan Allah SWT, sebagaimana – termasuk kebijaksanaan-Nya – Dia menjadikan kaum laki-laki memiliki kemampuan untuk memelihara hal ini dengan membawanya pada pergaulan yang baik.

Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan sebuah pesan dengan berkata “Salah satu kewajiban suami terhadap istri adalah memperlakukannya dengan baik. Perlakuan baik kepadanya bukan hanya tidak menyakitinya, melainkan juga bersabar atas perilakunya, kemarahannya, kelambanannya, untuk meneladani Rasulullah SAW. Lebih daripada itu, seorang laki-laki dapat lebih bersabar atas perilaku buruk istri dengan humor yang bisa menyenangkan hatinya”

3. Larangan bersikap buruk kepada perempuan

Rasulullah SAW bersabda; “Aku ingatkan kepada kalian tentang hak dua orang yang lemah, yaitu anak yatim dan perempuan” (HR. Ahmad, Ibn Majah dan Al-Hakim)

Hadits ini memperingatkan untuk tidak berlaku buruk terjadap kaum perempuan, sebagaimana terhadap anak yatim. Hadits ini juga mengumpamakan perempuan dengan orang yang lemah tertawan, serta menjelaskan bagaimana syariat Islam mengharamkan sikap aniaya kepada keduanya. Selain mengumpamakan perempuan dengan orang yang lemah yang tidak berdaya, Rasulullah SAW juga mengumpamakan orang yang telah berumahtangga dengan orang yang tertawan. Beliau bersabda; “Janganlah mencari-cari alasan untuk menyakiti mereka”

4. Larangan menyakiti istri (perempuan)

Dari Ayas bin `Abdullah bin Abu Dzubab, Rasulullah SAW bersabda; “Janganlah memukul hamba (perempuan) Allah SWT”. Kemudian Umar bin Al-Khaththab mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata; “Kadang-kadang kaum perempuan berbuat durhaka kepada suami mereka. Umar meminta keringanan agar dibolehkan memukul mereka. Namun sejumlah perempuan mendatangi istri-istri Nabi SAW, dan mengadukan perlakuan suami mereka. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda; “Banyak perempuan menemui istri-istri Muhammad untuk mengadukan perlakuan suami mereka. Suami-suami seperti itu bukanlah orang-orang terbaik” (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, Al-Darimi, Ibn Hibban dan Al-Hakim)

Hadits ini menjelaskan bahwa ada keterkaitan yang erat antara keimanan dan akhlak yang baik. Semakin baik akhlak seseorang, maka keimanannya akan semakin sempurna. Semakin baik sikap seseorang kepada orang lain dengan menampakkan wajah yang berseri, tidak menyakiti dan berbuat baik serta berlaku kasih sayang, maka keutamaannya pun semakin besar di mata Allah SWT.

Kaitan seperti ini berpengaruh besar terhadap hubungan diantara anggota masyarakat. Khususnya kasih sayang kepada kaum perempuan ketika keimanan kaum laki-laki berkaintan dengan tingkat kebaikannya kepada istri mereka. Disamping menunjukkan ketinggian akhlak mereka sendiri. Sebab itulah Rasulullah SAW bersabda; “Hanya orang mulia yang memuliakan perempuan dan hanya orang tercela yang merendahkan mereka”. Dalil yang paling kuat tentang hal ini adalah bahwa seruan ini ditujukan kepada kaum Muslim agar menggunakan hukum syariat dan akal sehat dalam menyelesaikan perselisihan dengan istri, bukan dengan menggunakan perasaan apalagi kekerasan.

Meskipun syariat membolehkan pemukulan kepada istri, hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa. Selain membolehkannnya, syariat juga mencela orang yang melakukannya sebagai kebiasaan. Syariat juga menyebutkan bahwa orang yang tidak menggunakan cara tersebut sebagai orang yang paling baik. [untuk lebih jelasnya baca link berikut: Sikap Islam terhadap kaum perempuan]

5. Batasan aurat bagi kaum perempuan

Dari Khalid bin Duraik; Aisyah RA berkata; “Suatu hari, Asma binti Abu Bakar menemui Rasulullah SAW dengan mengenakan pakaian tipis. Beliau berpaling darinya dan berkata; “Wahai Asma, jika perempuan sudah mengalami haid, tidak boleh ada anggota tubuhnya yang terlihat kecuali ini dan ini (sambil menunjukkan ke wajah dan kedua telapak tangan)” (HR. Abu Dawud)

Dari Ibn Abbas RA, pada Idul Adha Rasulullah SAW membonceng Al-Fadhl bin Abbad diatas untanya. Al-Fadhl adalah seorang pemuda yang berambut indah dan berkulit putih. Lalu, seorang perempuan datang dari Khats`am untuk bertanya kepada Rasulullah SAW. Al-fadhl dan perempuan itu bertemu pandang. Melihat hal itu, Rasulullah SAW segera memalingkan wajah Al-Fadhl ke arah lain. Namun Al-Fadhl memandang perempuan itu lagi hingga tiga kali. Kemudian Rasulullah SAW menghalangi pandangannya. Al-Abbas bertanya kepada Rasulullah SAW “Mengapa engkau memalingkan wajah keponakanmu? Rasulullah SAW menjawab; “Kulihat ada seorang pemuda dan seorang pemudi. Aku tidak dapat mencegah syaitan diantara keduanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Ummu Salamah RA, ketika turun ayat ”… Hendaklah mereka mengulurkan hijab mereka…” (QS. Al-Ahzab [33] ayat 59). Kaum perempuan dari kalangan Anshar keluar dan seakan-akan diatas kepala mereka terdapat burung gagak dari kain” (HR. Abu Dawud)

Hadits-hadits diatas menunjukkan beberapa hal, diantaranya;
Pertama, memperingatkan kepada kaum perempuan tentang dampak negatif dari berpakaian tipis.
Kedua, batas aurat perempuan yang boleh ditampakkan adalah wajah, kedua telapak tangan dan telapak kaki. Ini berdasarkan pendapat dari Abu Hanifah dalam satu riwayatnya, ditambah dengan pendapat dari Al-Tsauri dan Abu Al-Abbas.

Sehingga dengan demikian maka perintah dalam menutup aurat adalah wajib karena sebagai upaya dalam menjaga kehormatan diri kaum perempuan. Melindungi haknya yang bisa membawa mereka pada tingkat kemuliaan. [lebih jelasnya baca link berikut: Jilbab dan aurat Muslimah]

6. Perempuan sebagai penyejuk suami

Dari Jabar bin Abdullah RA, Rasulullah SAW melihat seorang perempuan lalu beliau mendatangi istrinya Zainab yang sedang menggosok kulit yang hendak di samak. Lalu beliau memenuhi hajatnya. Setelah itu, beliau menemui para sahabatnya dan bersabda; “Sesungguhnya, perempuan bisa menjadi perangkap syaitan. Oleh karena itu, jika seseorang diantara kalian melihat perempuan, segeralah mendatangi istrinya. Sesungguhnya hal itu bisa meredakan nafsunya” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibn Majah)

Hadits ini menunjukkan beberapa hal, diantaranya;

Pertama, perempuan bisa menyerupai syaitan dalam kemampuannya menimbulkan fitnah bagi laki-laki. Maka dari itu Rasulullah juga bersabda; “Sepeninggalku, fitnah yang paling berbahaya bagi laki-laki adalah perempuan” (HR. Muslim)

Kedua, penilaian bahwa perempuan adalah sumber fitnah bagi kaum laki-laki tidak menunjukkan kekurangan mereka. Sebab, hal itu diluar kehendak perempuan dan merupakan kehendak dari Allah SWT. Namun, perempuan juga harus memahami bahwa hal ini tetap menjadi tanggungjawabnya. Karena itu ia harus menjaga diri dari fitnah ini. Semakin kuat ia berpegang pada ajaran agamanya, maka semakin sukses ia menghadapi ujian, meleyapkan tipu daya syaitan dan menolak keikutsertaannya dalam menyebarkan fitnah serta kesesatan kepada para lelaki di tengah masyarakat.

Ketiga, perempuan sebaiknya memahami dan berpegang teguh pada ketentuan syariat ketika beraktivitas di tengah masyarakat. Dengan demikian, ia telah mempersiapkan diri dalam menghadapi fenomena yang menyebabkan kenistaan. Ia juga dapat menjaga kesucian dirinya dan masyarakat.

Keempat, kaum perempuan Muslim modern menghadapi medan perjuangan yang luas dan peperangan yang sengit. Karena itu, mereka seharusnya tidak memberikan kesempatan kepada musuh-musuh Islam – terutama Yahudi dan mereka yang berusaha memunculkan fitnah melalui kaum perempuan –  dengan tujuan untuk menghancurkan kaum Muslim. Ketahuilah bahwa musuh-musuh Islam telah melakukan upaya murahan – di dukung oleh kaum sekuler dari umat ini –  dengan menyebarkan gambar-gambar porno, penari bugil, penampilan sangat seksi dan hal-hal yang bertentangan dengan norma sosial dan agama. Mereka memanfaatkan media informasi untuk menggalakkan usaha mereka dengan dalil atas nama seni. Mereka juga menyebar fitnah dan memandang hal itu sebagai contoh peradaban dan kemajuan zaman. Sehingga yang bathil dipandang benar, dan yang haram di pandang halal. Berdasarkan ini, maka wanita yang shalihah wajib menggunakan peluang jihad ini – dengan berbagai cara yang legal dan beradab – untuk membela kesucian dan kehikmatan kaum perempuan, serta menolak segala bentuk penghancuran dan eksplorasi berlebihan yang ditujukan kepada perempuan di dalam masyarakat Islam.

***

Saudaraku yang budiman, dengan mengetahui beberapa contoh tentang keutamaan dan kewajiban seorang perempuan diatas, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menegakkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Memang dalam dunia yang sekarang ini kita berada di dalamnya, maka menegakkan syariat dan kebenaran akan terasa begitu berat, bahkan tidak jarang akan mendapatkan cibiran dan ejekan karena Anda memakai jilbab atau berperilaku shalihah. Tetapi yakinlah, bahwa ketika kita berhasil melalui setipa ujian dan cobaan maka kemudahan, kebahagiaan dan balasan yang baik akan Allah SWT berikan.

Bersabarlah, karena seorang Mukmin baik ia laki-laki ataupun perempuan sudah semestinya bersabar dalam setiap menghadapi masalah dalam kehidupannya. Serta tidak cepat berbangga hati dan sombong ketika mendapatkan anugrah.

Semoga kita senantiasa berpegang teguh pada setiap ketentuan yang telah Allah SWT dan Rasulullah SAW tetapkan. Karena hanya dengan itulah, maka kita akan kembali kepada-Nya dengan wajah yang berseri-seri lagi di ridhai.

Wallahu a`lam Bishshowab

Yogyakarta, 09 Maret 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

Sebagian tulisan disadur dari buku; “Riyadh Al-Shalihat; Quthuf Tarbawiyyah min Bustan Al-Nubuwwah“ atau “100 pesan Nabi untuk Wanita: Penuntun akhlak dan ibadah” karya; Badwi mahmud Al-Syaikh, tahun 2006.

Iklan

3 thoughts on “Keutamaan Kaum Wanita: Menuju Keshalihan

    1. Wokey Dik, makasih juga udah mau berkunjung di tulisan ini, semoga bermanfaat dan menjadi tolak ukur sikap kita kepada kaum Hawa, sebagai wujud cinta yang sesungguhnya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s