Soe Hok Gie dan pendakian seorang pendaki

Ketika ku teringat pada kenangan setiap pendakian, maka tertegun di dalam hatiku suara dentuman motivasi agar dapat terus berkarya dan memperjuangkan kebenaran hingga titik darah penghabisan. Aku kembali teringat pada beberapa peristiwa semasa menjadi aktivis kampus dan pecinta alam. Aku pun teringat akan betapa kerasnya sikap seorang Soe Hok Gie dalam mempertahankan prinsip dan keyakinannya. Dan terlebih lagi ingatanku berlabuh pada saat melihat dengan jelas monument kematian Soe Hok Gie yang ada di puncak Mahameru. Monument yang mewakili keagungan cita dan cintanya seorang demonstran.

Oh… aku rindu pada kenangan masa silam
Masa dimana semangat pada perubahan terus didengung-dengungkan kawan-kawan
Oh… aku akan selalu menggunakan perjalananku ini
Perjalanan yang senantiasa menentang tirani dan keangkuhan manusia

Empat puluh tahun silam, tepatnya tanggal 16 Desember 1969, bangsa Indonesia, khususnya keluarga besar Universitas Indonesia kehilangan seorang mahasiswa yang brillian dalam pemikiran dan pergerakan. Soe Hok-gie, nama mahasiswa itu ditemukan tewas di atas puncak Gunung Semeru, Jawa Timur. Soe Hok-gie ternyata tidak hanya dikenal sebagai pendaki gunung yang sudah malang melintang di dunia pendakian. Tetapi Gie, demikian ia akrab disapa, ternyata juga seorang mahasiswa yang idealis dan bernyali pada zamannya.

Herman Lantang, Anton Wiyana, Abdurachman, Aristides Katoppo adalah orang yang ikut mendaki Gunung Semeru bersama Soe Hok Gie. Menurut Herman Lantang yang saat itu menjadi ketua tim pendakian, pada saat sudah berada di puncak Semeru, karena hari sudah menjelang sore ia memutuskan untuk segera turun. Namun, Soe Hok Gie, Idhan Lubis dan Abdurachman masih berada di puncak menikmati keindahan kota Malang dari ketinggian. Dan secara tiba-tiba Abdurachman dengan terengah-engah berlari menuruni tebing dan mengabarkan kalau Soe Hok Gie dan Idhan Lubis, mahasiswa Universitas Tarumanegara telah tewas. Mereka berdua akhirnya diketahui telah tewas karena menghirup udara beracun ketika sedang berada di puncak gunung yang tertinggi di pulau Jawa itu.

Berita kematian dua mahasiswa pecinta alam itu pun menjadi heboh. Gie yang kala itu terkenal sebagai penulis yang kritis dan pedas terhadap pemerintah karena kritikan-kritikannya, berita kematiannya menimbulkan banyak spekulasi. Kala itu berkembang kabar Gie tewas karena diracun oleh anggota intelijen. Dan, akibatnya Herman Lantang, sebagai ketua tim diperiksa petugas kepolisian.”Saya capek karena ditanya dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang,” kata Herman Lantang mengenang. “Polisi tidak tahu hubungan kami itu adalah sahabat karib. Jadi, tidak mungkin kalau saya bertindak macam-macam,” ujar Herman berapi-api.

Keberanian Soe Hok Gie ternyata tidak hanya dalam hal mengkritik pemerintah era Presiden Soekarno atau Presiden Soeharto melalui tulisan saja. Ternyata Gie yang walau keturunan Tionghoa itu sangat berani ketika melakukan demonstrasi. “Pernah suatu ketika Soe Hok Gie menghadang panser yang keluar dari istana kepresidenan dengan tidur terlentang di jalan,” cerita Aristides Katoppo, sahabat diskusi Gie. Adegan tidur di jalan aspal itulah ternyata menjadi peristiwa yang fenomenal yang menjadikan Soe Hok Gie disegani berbagai kalangan.

Keberanian, kejujuran, dan kesetiakawanan Soe Hok Gie ternyata tidak hanya dirasakan oleh teman dan sahabat-sahabatnya saja. Para muridnya, Gie yang kala itu juga mengajar teman dan mahasiswa yunior, juga mengakuinya. Kenangan “adik-adik” Gie itu bahkan menuangkan tulisan dan menerbitkan kembali tulisan dan pemikiran Gie ke dalam sebuah buku. Tiga “adik-adik” Gie, Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti dan Nessy Luntungan telah menulis kembali kenangan 40 tahun lalu itu ke dalam sebuah buku “Soe Hok-gie…sekali lagi.

Kala itu banyak kalangan menilai Soe Hok-gie termasuk orang yang langka. Orang yang memikirkan orang lain tidak untuk diri sendiri.Dan, nampaknya ia tahu betul akan mati muda. Ini terungkap dari sebuah catatan hariannya…”Seorang filsuf Yunani pernah menulis…..nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda ( Soe Hok Gie 1942 – 1969 ).

Salut dan bangga memiliki pendahulu layaknya seorang Soe Hok Gie. Seorang demonstran.

Yogyakarta, 19 Desember 2009
Mashudi Antoro (Oedi)

[Sebagian tulisan di sadur dari kickandy.com]

Iklan

7 thoughts on “Soe Hok Gie dan pendakian seorang pendaki

      1. Iya emg kisah dari orang-orang bebas dan memiliki kebaikan dihatinya akan sangat berkesan bila di ketahui.
        Makasih ya utk kunjungan dan komentarnya… semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s