Asal usul dan riwayat singkat dari Rasulullah SAW

Posted on Updated on

Makkah pada zama kuno terletak di garis lalu lintas perdagangan antara Yaman (Arabia selatan) dan Syam dekat Laut Tengah. Kedua negara ini pada waktu itu merupakan sebuah negara yang telah mencapai peradaban yang tinggi.

Dipandang dari segi geografi maka kota Makkah terletak hampir di tengah-tengah Arabia. Oleh karena itu tidaklah sulit bagi para kabilah untuk dapat mencapai Makkah, dan tidaklah sulit bagi mereka (orang Makkah) untuk berpergian ke negeri tetangganya seperti Yaman, Syam dan Hirah.

Pada waktu bendungan besar Ma`rib di Arabia Selatan pecah dan menimbulkan malapetaka yang besar bagi penduduknya, maka banyaklah dari mereka (penduduk) berbondong-bondong untuk meningkalkan daerah tersebut ke arah utara dalam bentuk kabilah-kabilah. Diantara mereka terdapat satu rombongan yang dipimpin oleh Harits bin `Amir yang bergela Khusa`ah. Setiba di Makkah merekapun berhasil mengalahkan suku Jurhum (orang asli Makkah) yang kemudian menjadi penguasa atas negeri Makkah secara turun temurun.

Dalam masa pemerintahan Khuza`ah inilah Banu Ismail yang notabene nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW berkembang biak dan berangsur-angsur meninggalkan Makkah dan bbertebaran ke penjuru Jazirah Arab. Yang tinggal hanya suku Quraiys. Mereka tak memiliki kekuasaan atas kota Makkah ini dan juga Ka`bah.

Sekitar abad ke 6 Masehi, seorang pemimpin kabilah Quraiys yang bernama Qushai bebrhasil merebut kekuasaan kota Makkah dari kaum Khuz`ah. Kekuasaan yang direbut ini meliputi bidang pemerintahan dan keagamaan, sehingga ia pun menjadi pemimpin agama dan pemerintahan di kota Makkah.

Pada bidang pemerintahan maka Qushai meletakkan dasa-dasar demokratis, dengan membagi-bagi kekuasaan diantara pemimpin Quraiys. Ia mebangun tempat mereka untuk bermusyawarah dan memecahkan masalah yang disebut Daarunnadwah. Di bidang keagamaan, sejak Qusahi berhasil menggulingkan kekuasaan kaum Khuza`ah maka dialah yang memegang pemimpin agama.

Bangsa Arab juga mengakui bahwa hak untuk pemeliharaan atas Ka`bah da;am kota Makkah itu hanya pada keturunan Nabi Ismail AS. Sehingga tindakan Qusahi dalam mengambil ali pimpinan atas Ka`bah segera dibenarkan oleh bangsa-bangsa Arab, karena Qusahi sendiri adalah keturunan dari Nabi Ismail  AS. Dengan demikian hanya dialah yang berhak menjaga, membuka dan menutup Ka`bah serta memimpin upacara keagamaan di Baitullah itu. setelah Qushai meinggal maka pimpinan itu dilanjutkan ol;eh keturunannya.

Silsilah Rasulullah SAW
Dari Qushai inilah di kemudian hari lahirlah seorang manusia yang menjadi seorang Nabi dan utusan Allah SWT. Dialah Nabi Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman.

Adapun silsilah beliau adalah sebagai berikut:

Dari pihak ayah (Abdullah)
-> Ahmad (Muhammad SAW) bin Abdullah bin Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah

Dari pihak ibu (Siti Aminah)
-> Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah.

Kedua Nasab (silsilah) keturunan ayah dan ibu Nabi SAW bertemu. Baik keturunan ayah atau pun ibu maka keduanya termasuk golongan terhirmat dan bangsawan dalam kalangan kabilah-kabilah Arab.

Selain itu, ternyata Nasab Nabi Muhammad SAW dengan istrinya yaitu Siti Khadijah juga bertemu, khususnya pada Qushai. Berikut silsilahnya;

-> Siti Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul `Uzza bin Qushai.

Sejarah pengangkatan menjadi Nabi
Ahmad bin Abdullah menerima wahyu pertama berumur 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun bulan (Qomariyah) dan 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut tahun matahari (Syamsiah). Maka dari itu pula telah menandakan baahwa beliau telah diangkat menjadi seorang nabi dan utusan Allah SWT.

Setelah menerima wahyu pertama itu maka beliau terus pulang kerumah istrinya Siti Khadijah. Istri yang patuh dan setia ini segera menyelimuti sang suami. Setelah agak reda maka diceritakannya kepada sang istri perihal yang telah terjadi atas dirinya dengan perasaan cemas dan khawatir.  Tetapi istri yang bijaksana itu sedikitpun tidak memperlihatkan kehawatiran dan kecemasan hatinya bahkan dengan khidmat ia manatap wajah suaminya seraya berkata “Bergembiralah hai anak pamanku, tetapkanlah hatimu demi Tuhan yang jiwa Khadijah di dalam tangan-Nya. Saya harap engkaulah yang akan menjadi Nabi bagi kaum kita ini. Allah tidak akan mengecewakan engkau, bukankah engkau yang berkata benar yang selalu menumbuhkan tali silaturahhim, bukankah engkau yang senantiasa menolong anak yatim, memuliakan tetamu dan menolong setiap orang yang ditimpa kemalangan dan kesengsaraan?” Demikianlah Siti Khadijah menenteramkan hati suaminya.

Karena terlampau lelah setelah mengalami peristiwa besar yang baru saja terjadi itu maka beliaupun tertidur, sementara itu Siti Khadijah pergi ke rumah anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal. Seorang yang tidak menyembah berhala, telah lama memeluk agama Nasrani dan dapat menulis dengan bahasa Ibrani, telah lama mempelajari serta menyalin ke bahasa Arab isi kitab Injil dan Taurat. Usianya pun telah lanjut dan matanya sudah buta. Setelah bertemu lalu diceritakannya oleh Siti Khadijah apa yang terjadi atas diri suaminya kepada Waraqah.

Setelah mendengar cerita Ahmad dari Khadijah lalu Waraqaw berkata “Quddus, Quddus, demi Tuhan yang jiwa Waraqah di dalam tangan-Nya, jika engkau membenarkan aku ya Khadijah sesungguhnya telah datang kepadanya (Muhammad) Namus akbar (petunjuk yang Maha Besar) sebagaimana yang pernah datang kepada Nabi Musa AS. Dia sesungguhnya akan menjadi Nabi bagi umat kita ini. dan katakanlah kepadanya hendaklah ia tetap tenang”

Mendapatkan penjelasan dari Waraqah itu setelahnya Siti Khadijah kembali kerumahnya lalu diceritakannya apa yang telah dikatakan oleh Waraqah bin Naufal itu kepada diri suaminya. Di dalam kitab-kitab Tarikh diriwayatkan bahwa setelah badan Nabi kelihatan telah segar kembali dan suara beliau sudah berangsur-angsur terang maka Khadijah mengajaknya ke rumah Waraqah untuk bertanya lebih lanjut tentang periha yang telah terjadi.

Sesampainya di rumah Waraqah lalu satu sama lain salin memberikan penghormatan layaknya yang umum di dilakukan di zaman itu. setelahnya Waraqah menanyakan maksud dari keduanya untuk datang bertemu denganya. Khadijah pun memperkenalkan Nabi kepada Waraqah, setelah itu Nabi pun menceritakan tentang apa yang telah terjadi pada dirinya di dalam gua Hira`. Mendengar penjelasan itu maka Waraqah pun berkata “Quddus, Quddus, hai (Muhammad) anak saudaraku, itu adalah rahasia yang paling besar yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS. Wahai kiranya aku dapat menjadi muda dan kuat, semoga aku masih hidup, dapat melihat ketika engkau dikeluarkan (di usir) oleh kaummu”

Nabi setelah mendengar perkataan dari Waraqah yang sedemikian itu lalu beliau bertanya “Apakah mereka (kaumku) akan mengusir aku?” Waraqah menjawab “Ya, semua orang yang datang mebawa seperti apa yang engkau bawa ini, mnereka tetap di musuhi. Jikalau aku masih menjumpai hari dan waktu engkau di musuhi itu aku akan menolong engkau dengan sekuat tenagaku”

Dengan keterangan dari Waraqah itu maka Nabi pun merasa mendapat keterangan dan penjelasan yang jelas tentang peristiwa yang baru dialaminya itu. Khadijah juga memegang teguh keterangan dari Waraqah itu ddan memang itulah yang dinanti-nantikan selama ini. berita gembiran tentang pengangkatan suaminya menjadi Rasulullah.

Peristiwa hijrah

  1. Mulai perjalanan (tgl belum diketahui)
  2. Tiga hari bersembunyi di gua Tsur
  3. Yang menemani perjalanan adalah Abu Bakar, Abdullah bin Uraiqit (penunjuk jalan) dan Ali bin Abi Thalib yang menyusul kemudian.
  4. Setelah menyusuri pantai laut merah dan juga padang pasir yang sangat luas dan panas akhirnya pada hari senin tanggal 8 Rabi`ul awal tahun I Hijrah maka tibalah Nabi dio Quba. Sebuah tempat yang berjarak 10 Km dari Yastrib. Disini Nabi dan sahabat beristirahat selama 4 hari dan nabi pun mendirikan sebuah masjid yang belakangan dinamakan masjid Quba.
  5. Pada hari Jum`at tanggal 12 Rabi`ul awal tahun 1 Hijrah atau tanggal 24 Septemberb 622 M, Nabi Muhamad SAW, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan juga Abdullah bin Uraiqit akhirnya tiba di Yastrib.
  6. Tanggal 12 Rabi`ul awal tahun 1 Hijarh adalah untuk pertama kalinya ditunaikan shalat jum`at.
  7. Tanggal 12 Rabi`ul awal tahun 1 Hijrah menjadi tanggal penetapan nama Yastrib menjadi Madinatun Nabiy (kota Nabi). Ini terjadi ketika khotbah shalat jum`at yang disampaikan oleh Nabi. Kemudian selanjutnya kota ini disebut dengan Madina al-Munawarah.

Demikianlah sekelumit tentang kehidupan Rasulullah SAW. Semoga dengan mengetahui tentang riwayat beliau ini maka akan semakin menambah taraf kecintaan kita terhadap diri beliau dan tentunya ajaran agama Islam yang telah beliau bawa bagi kesejahteraan umat manusia.

Yogyakarta, 10 Oktober 2009
Mashudi Antoro (Oedi`)

Sumber tulisan:
Jakarta, I Maret 1971. Al-Qur`an dan Terjemahnya. (dari; Khadim al-Haraman Asy Syarifan (pelayan kedua tanah suci) Raja Fadh Ibn `Abd al-Aziz al-Sa`ud)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s