Mengembalikan Norma Kebaikan pada Diri Setiap Manusia

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 263)
“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-A`raaf [7] ayat 33)

Saudaraku yang budiman, sekali lagi mari kita coba merenungi hal yang tak jauh dari kehidupan disekitar kita. Mari kita mencoba mengumpulkan beberapa sikap yang telah banyak hilang diantara kita semua. Dimana jelas sekali semuanya lambat laun semakin terkikis hilang ditelan arus kehidupan duniawi dan modernisasi. Bahkan terkadang tidak segan-segan mengakui kemuliaan budaya kebebasan yang sebebasnya dalam hidup. Sehingga kita sendiri kelak akan bisa jauh memperbaikinya.

Menilik dari firman Allah Swt di dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah [2] ayat 263 dan QS. Al-A`raaf [7] ayat 33 diatas maka pada pembahasan kita kali ini tentu tidak akan jauh dari hal norma perilaku setiap diri anak manusia. Dan bila kita cermat memperhatikan maka tentunya di beberapa tahun belakangan ini maka sikap kebaikan akhlak akan terasa semakin tidak terjaga bahkan hilang secara perlahan oleh sebuah prinsip yang hanya menghargai diri sendiri. Sebuah sikap yang tidak mempedulikan orang lain meskipun sebenarnya adalah lingkaran hidup sosial yang tidak bisa terpisah dari diri mereka sendiri.

Saudaraku, di dalam hidup dan kehidupan sosial maka manusia agar bisa menjalin hubungan secara baik, harmonis lagi berkah dimata Allah Swt telah dibekali dengan beberapa norma kebaikan. Sebagai contoh adanya norma agama, hukum, adat, sehingga ketika seseorang hendak melakukan sesuatu maka sebagai makhluk yang memiliki akal untuk berpikir maka dia haruslah menyesuaikan dengan tuntunan dari norma-norma yang bersangkutan tersebut, sehingga kelak tentunya akan membawa faedah yang baik baginya. Norma-norma yang berlaku tersebut sejatinya adalah upaya untuk membangun sebuah manusia yang baik secara jasadiyah maupun ruhaniyah. Baik antar sesama manusia/makhluk (Hambluminannas) dan juga antara dia dengan Tuhannya (Hablumminallah). Sehingga kedepannya tentu akan selalu membawa pada kebahagiaan. Norma-norma tersebut bisa ada karena dua hal, pertama memang berasal dari aturan yang berlaku dalam sebuah agama (dari Tuhan), kedua oleh karena memang sengaja dibuat oleh lingkungan masyarakat sendiri.
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud [11] ayat 114)

Banyak norma-norma yang telah hilang dari jiwa seorang anak manusia. Entah dikarenakan tidak adanya sebuah pembelajaran dari orangtua, lingkungan, tempat dia menuntut ilmu, atau memang dari dirinya sendiri yang merasa tidak memerlukan norma-norma tersebut berlaku di dalam kehidupannya. Namun yang jelas dampak yang bisa ditimbulkan dari tidak tertanamnya sikap menjalankan norma-norma yang berlaku di masyarakat itu tentunya akan membawa mudharat baik bagi dirinya, orang lain ataupun dia kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Sehingga dari itulah mari kita mencoba secara perlahan mengembalikan kebutuhan penerapan tuntunan setiap norma yang berlaku itu didalam kehidupan setiap diri umat manusia.
Saudaraku tercinta, mari kita mencoba mengambil sebuah contoh hilangnya adab kebiasaan yang baik dalam kehidupan masyarakat kita sekarang ini atau dalam artian mulai ditinggalkan oleh sebagian diri anak manusia. Adab tersebut adalah kebisaan unggah ungguh (tata krama) yang ketika dulu menjadi keunggulan dari sikap pribadi sebuah bangsa. Namun dengan seiringnya waktu dan masuknya kontaminasi kebudayaan asing yang ternyata sebagian besarnya adalah tidak baik maka kebanggaan dan keluhuran budaya, agama, tata krama yang ada di masyarakat kita itu menjadi terkikis atau bahkan sebagian besarnya telah hilang ditelan oleh waktu itu sendiri. Tidak banyak atau bahkan tidak ada yang peduli dengan kemerosotan nilai prilaku tersebut. Mereka dengan enteng saja menganggap bahwa itu adalah sebuah hal atau kondisi yang wajar-wajar saja karena perkembangan zaman. Sehingga jangan heran karakter bangsa kita sekarang menjadi jauh lebih kasar, arogan dan seenaknya dalam bertindak.

Dulu kita tidak asing dengan yang namanya tegur sapa, saling membantu, saling menghormati (kepada yang lebih tua, sesama atau kepada yang lebih muda dalam usia), saling berbagi makanan, saling perhatian, saling menjenguk dan hal-hal yang sebenarnya tetap sangat diperlukan dalam konteks hidup bermasyarakat. Namun sungguh sangat disayangkan pada beberapa dekade belakangan ini dimana sikap yang menjunjung segala macam norma kebaikan itu telah berangsur-angsur dibuang dan dijauhkan dari diri seorang anak manusia. Terlepas dari berbagai macam alasannya namun yang jelas sikap sedemikian dimana tidak mempedulikan pentingnya norma-norma kebaikan maka tentunya akan berdampak pada kemerosotan akhlak sebuah bangsa. Bahkan bila terus dipertahankan maka dia akan berdampak buruk pula pada kehidupan dan kemajuan peradaban sebuah bangsa.

Saudaraku terkasih, cukupkanlah sudah ketidakpedulianmu pada hilangnya kebaikan norma pada dirimu sendiri atau juga terhadap diri orang lain. Mari dari sekarang kita berusaha mengembalikan anugrah yang telah Tuhan titipkan pada bangsa kita dulu yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong, karena telah terbukti bisa membawa pada kemaslahatan banyak orang. Tidak ada ruginya bila dirimu menjadi sesosok manusia yang arif dan bijaksana dalam bertingkah laku. Tidak akan membawa dampak keburukan jika dirimu ikhlas menjalani hidup dengan berpegang teguh pada segala norma yang berlaku. Dan Allah Swt di dalam Al-Qur`an surat Asy-Syuura [42] ayat 23 telah menjelaskannya, “Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”

Sehingga selain memang seruan dari Allah Swt kepada hamba-Nya dalam menjunjung tinggi sebuah norma kebaikan, maka secara cepat atau lambat hasil yang kelak didapatkan tentunya akan berdampak positif pada kebahagiaan diri seorang hamba yang mengikutinya.
Mari sekali lagi saudaraku sekalian, mari kita mencoba kembali pada kebiasaan baik kita dulu. Jangan lagi kau menganggap bahwa sikap tidak bertegur sapa kepada yang bukan kenalan, orang yang se-tipe, se-agama, se-golongan, se-bangsa denganmu adalah tidak apa-apa. Karena sebenarnya itulah cikal bakal terpecah belahnya umat manusia, bahkan dikalangan internal umat Islam sendiri. Jangan kau pertahankan perilaku tidak baik tersebut sebab itu sangat dibenci oleh Allah Swt karena Dia telah mengingatkan kepada kita seluruh umat manusia di dalam Al-Qur`an surat Ali-`Imran [3] ayat 103:
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”
Sehingga sekali lagi aku mengajak kepada diriku sendiri dan juga engkau yang memiliki kecerdasan untuk bertindak agar selalu menerapkan kembali kebiasaan menjalankan norma kebaikan yang telah berlaku di dalam kehidupan masyarakat kita.

Saudaraku sekalian, sekarang sebaiknya langkah apa yang harus dilakukan agar kejayaan mulia kepribadian menjadi kebiasaan yang ada pada diri seorang hamba?

Sebenarnya telah banyak contoh perilaku yang harus kita perbaiki, contohnya adalah mengapa ada diantara kita yang ketika bertatap muka dengan seseorang yang kebetulan bukan kenalan atau se-tipe tidak malah saling melontarkan senyuman atau saling bertegur sapa? Padahal sebuah senyuman akan membahagiakan keduanya karena saling menghormati dan memberikan kasih sayang. Kemudian mengapa terhadap orang yang lebih tua, seumuran dan kepada yang lebih muda usianya dari kita, kita lantas tidak saling menghargai. Tidak ada lagi sopan santun yang kendatinya tetap harus dipertahankan karena itu adalah sikap yang mulia dan membawa berkah bagi setiap diri manusia. Mengapa ada diantara kita yang ketika melihat seorang yang lain dalam kesusahan tidak lantas memberikan sebuah pertolongan, padahal itu akan membantumu untuk di tolong oleh Allah Swt kelak. Mengapa masih ada diantara kita yang ketika melihat sebuah kemudharotan/kemaksiatan tidak bersegera memberikan dakwah yang menyejukkan (baca bagian “Dakwah yang menyejukkan) padahal itu akan menyelamatkanmu dari perihnya azab Allah di neraka. Dan masih banyak lagi sikap-sikap yang tidak tepat kita lakoni pada setiap gerak kehidupan bermasyarakat selama ini.

Tidak sulit sebenarnya untuk kembali menjalankan kebiasaan mengangkat tinggi norma kebaikan tersebut jika kita dengan ikhlas mau melakukannya. Di mulai dengan niat kemudian diteruskan dengan melakukannya secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus langsung pada wilayah yang luas seperti masyarakat atau negara tetapi dari lingkungan keluarga sendiri sudah cukup. Karena kebaikan kehidupan masyarakat sebuah bangsa atau negara sangat ditentukan dari kebaikan hidup dalam setiap rumahtangga keluarganya. Tidak harus dengan tindakan yang berlebihan seperti memberikan uang atau benda yang berharga tetapi dengan sebuah perkataan yang ramah dan bersahaja telah sangat baik dan bermanfaat. Tidak harus selalu memberikan bantuan materi yang banyak melainkan dengan bantuan yang bersifat tenaga atau pikiran sudah sangat mencukupi untuk sebuah perubahan. Dan masih banyak lagi perbuatan yang tidak harus mengeluarkan biaya dapat kita lakukan sehingga kelak akan berdampak positif bagi kita bersama, baik antar sesama manusia (Hambluminannas) juga dimata Allah (Habluminalllah).
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.…” (QS. Fathir [35] ayat 10)

Saudaraku sekalian, dalam upaya menanamkan kebiasan berlaku bijaksana dan teladan, maka saya ambil sebuah contoh dalam pergaulan, bahkan sebenarnya di dalam Al-Qur`an Allah Swt telah menuntunkan kita bagaimana dalam bertingkahlaku. Penjelasannya terdapat dalam Surat Al-Isra` [17] ayat 23:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[51].”
[51]Mengucapkan kata “ah” kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Melihat peringatan diatas, maka dengan mengucapkan perkataan “ah” saja kepada orangtua oleh Allah sudah tidak diperbolehkan, lantas bagaimana dengan yang lain? Tentu sebagai seorang yang memiliki kecerdasan untuk berpikir maka kita sudah bisa mengetahuinya bahwa itu juga tidak diperbolehkan sama sekali.

Begitulah tuntunan yang telah Allah Swt berikan kepada kita sebagai hamba-Nya dengan tujuan tiada lain demi kebaikan kita sendiri. Contohnya bila kita tidak pernah mengatakan “ah” tersebut kepada orangtua maka tentunya akan menambahkan rasa kasih dan sayang keduanya terhadap kita. Mereka akan beranggapan bahwa kita adalah seorang anak yang baik dan teladan sehingga akan terus meningkatkan rasa cinta dan kasih sayang dari keduanya. Bahkan mereka akan dengan usaha yang tidak main-main demi membahagiakan diri kita. Dan jika itu memang berasal dari dalam hati nuranimu maka tentunya ridha dan rahmat dari Allah Swt akan senantiasa menyelimuti jiwa dan raga selama hidup.
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al-Ahqaaf [46] ayat 15)

Saudaraku yang terkasih, Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi sekalian alam) dan itu telah pula diterapkan oleh baginda Rasulullah Saw ketika masih hidup dulu sebagai suri tauladan kita. Beliau sangat teladan dalam bertingkah laku, baik kepada sesama umat, beda keyakinan bahkan pada semua makhluk ciptaan Allah Swt. Kepada sesama umat baik tua, seumur, atau yang lebih muda beliau selalu santun dan menghormatinya padahal dirinyalah yang sangat pantas untuk dihormati karena kenabiannya. Bahkan kepada mereka yang kafir dan sangat membencinya beliau tetap menyayanginya sama sebagaimana beliau kepada yang lain.

Sebuah kisah menceritakan bahwa dalam kecintaannya kepada Rasulullah Saw maka seorang sahabat terdekatnya yaitu Saidina Abu Bakar (Ra) mencoba untuk mengikuti perilaku nabi yang meskipun telah wafat. Kepada anaknya yang juga istri Rasulullah yaitu Siti Aisyah (Ea), Saidina Abu Bakar (Ra) menanyakan tentang kebiasaan nabi ketika di pagi hari dulu. Siti Aisyah (Ra) menceritakan bahwa dulu ketika di pagi hari maka Rasulullah memiliki kebiasaan memberikan makan seorang perempuan tua yang telah buta, fakir dan miskin langsung dirumahnya meskipun dia orang kafir dan membencinya waktu itu. Jadi dulu ada seorang perempuan tua yang telah buta lagi fakir dan miskin kemudian tinggal sendirian di rumahnya yang reyot. Dan oleh Nabi setiap paginya beliau selalu memberikan makanan dan minuman sebagai kebutuhan dari perempuan tua itu melanjutkan hidup. Inipun terus berlangsung hingga saat akhir usianya.

Karena kecintaan kepada diri nabi dan dalam upaya menirukan perilaku Rasulullah tersebut maka Saidina Abu Bakar (Ra) berikutnya melakukan hal yang serupa dengan Rasulullah itu. Di pagi hari beliau mendatangi perempuan tersebut dan memberikan makanan serta minuman yang sama dengan waktu nabi dulu. Namun ketika memberikan makan dan minum tersebut entah mengapa si orangtua tersebut heran dan bertanya, dia bertanya kepada Saidina Abu Bakar (Ra) kemana orang yang biasa memberikannya makan dan minum karena yang dirasakannya sekarang itu sangatlah berbeda. Saidina Abu Bakar (Ra) pun terkejut mendapatkan pertanyaan tersebut lantas kemudian beliau mengaku bahwa dia lah orang yang biasa memberikannya makanan itu. Namun si orang tua tersebut tidak percaya, meskipun buta namun dia bisa membedakan siapa orang yang memberikannya makanan dan minuman. Dia mengatakan “Sungguh orang tersebut sangat baik dan luhur budi pekertinya sehingga tidak ada yang sama dengan dia. Dan ketika datang untuk memberikan makanan dan minuman maka ia akan menunggui aku hingga selesai makan dan minum. Ketika makan buah kurma maka dia mengupaskan kulitnya dan memisahkan bijinya hingga langsung menyuapkannya kepadaku. Ketika minum maka iapun menyedukannya kebibirku hingga aku merasa cukup. Sedangkan yang ada sekarang tidak sama sekali, karena hanya memberikan dan meletakkaannya saja dihadapanku”. Begitulah sekilas yang dikatakan perempuan tua itu, bahkan karena sangat mengagumi orang tersebut maka perempuan tua itu juga membandingkannya dengan diri Rasulullah dengan berkata “Sungguh sangat berbeda dengan Muhammad yang katanya seorang nabi padahal hanya seorang yang tak lebih dari manusia yang serakah, sombong dan tidak baik kelakuannya, dan sungguh aku sangat benci kepadanya sampai kapanpun”.

Mendapati itu semua maka Saidina Abu Abakar (Ra) dengan menahan tangisnya lalu berkata “Sebenarnya yang dulu tiap pagi memberikan makanan kepada ibu adalah bukan saya tetapi dialah orang yang tadi ibu bilang hanya seorang yang tak lebih dari seorang yang serakah, sombong dan tidak baik kelakuannya. Dialah Muhammad Saw, orang yang memiliki kepribadian yang sangat pantas untuk di tiru bagi siapapun”. Saidina Abu Abakar (Ra) pun kemudian diam dan sang ibu merasakan keterkejutan yang sangat luar biasa. Dia tidak mengira bahwa orang yang selama ini sangat baik dan perhatian kepadanya adalah orang yang dirasa paling ia benci di muka bumi. Dan ketika itu juga ia menyesal, menangis dan berkata bahwa hendak masuk Islam dan berjanji akan menjalankan semua tuntunan yang telah ditunjukkan oleh baginda Rasulullah Saw.

Sungguh sebuah kisah yang sangat bagus dan layak untuk ditiru. Dan begitulah sekelumit cerita yang pernah terjadi dimasa lalu dan tentunya dari hikmahnya maka kita sebagai umat masa kini yang mengaku telah masuk kedalam agama Islam dan mencintai diri Rasulullah Saw maka tetap bisa menjadikannya sebagai referensi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Baik kepada mereka yang se-agama, se-bangsa atau mereka-mereka yang lain.
Wahai saudaraku, setelah dirimu mencermati penjelasan dan sedikit cerita diatas maka sudah saatnya bagi kita mulai mencoba menginstropeksi diri kembali demi mengetahui kekurangan selama ini. Dimana celah perbuatan atau tingkah laku yang masih tidak sesuai pada tempat dan tuntunan-Nya. Itu semua tidak terbatas pada perilaku kita kepada kedua orangtua, yang se-agama atau se-bangsa saja melainkan kepada semua makhluk yang telah Allah Swt ciptakan di alam semesta ini dengan kecintaan-Nya. Coba sekali lagi dirimu untuk segera menerapkan cinta pada semua norma kebaikan yang telah ada di dalam kehidupanmu karena tentunya itu hanya akan mengantarkanmu pada sebuah kemuliaan baik dimata Allah dan terlebih di mata umat manusia.

Semoga kita memang termasuk hamba Allah Swt yang benar dalam bertindak dan bertingkah-laku serta sesuai pula dengan tuntunan dan aturan-Nya.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Penulis: Mashudi Antoro (Oedi`), 21 April 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s