Sebuah Pengakuan

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti” (QS. Ali-`Imran [3] ayat 193)

Ya Allah, dalam kehinaan hamba yang fana ini maka dengarkanlah. Dalam kefakiran diriku yang bersimpuh dibawahmu maka kabulkanlah doaku ini. Penuhi ruang yang ada di dalam rongga hatiku dengan cahaya yang hanya berasal dari cahaya-Mu, dengan cinta yang selalu tidak melebihi kecintaanku terhadap-Mu. Ya Rahman, janganlah kau palingkan wajah-Mu dariku yang penuh harap akan ridha-Mu. Hamba tidak peduli Syurga atau Neraka tempatku di hari kelak, namun satu harapanku yang tulus yaitu mendapatkan senyuman dari-Mu di hari waktu pertanggungjawaban.

Ya Rabb, sungguh tak pantas diri ini mengaku beriman kepada-Mu sedangkan hamba sungguh banyak berbuat salah dengan tidak mengetahui tentang hakekat syariat-Mu. Hamba selama ini memang menjalankan perintah-perintah itu namun dengan tanpa kesadaran diri, melainkan atas dorongan nafsu dan hanya ingin diketahui oleh orang lain (Riya`) saja. Hamba memang senantiasa menjalankan syariat agama-Mu itu namun tidak disadari bahwa selama itu pula sebenarnya yang dilakukan bukanlah apa yang sesuai dengan hakekat isyarat dari-Mu melainkan sebuah kemunafiqkan semata. Hamba hanya melakukannya atas dasar rutinitas dan apa yang diturunkan dari para orangtua kami dulu. Hamba kurang cerdas, kurang berhati-hati dan kurang pula dalam berpikir agar benar-benar berjalan di jalan yang lurus. Sehingga tak pelak diri ini seperti kerbau disawah yang hidungnya dilubangi untuk kemudian dipasangi tali dan selalu mengikuti kemana perintah tuannya jika ditarik tanpa memikirkan apakah itu baik atau buruk dan sesuai dengan hakekatnya. Ya Allah, sungguh hina diri ini dihadapan-Mu karena dengan apa yang hamba lakukan selama ini maka tak pantaslah bila mengaku telah Islam dan beriman kepada-Mu, karena apa yang dikerjakan itu belum banyak sesuai dengan hakekat perintah dan aturan-Mu.

Ya Rahman, sungguh hina diri ini karena telah penuh dengan kekeliruan. Hamba sungguh serupa dengan firman-Mu,
“Bila kemalangan menimpa manusia, mereka cepat berdoa dan bertobat kepada Allah. Tetapi apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya,” (QS. Ar-Ruum [30] ayat 33).

Bahkan hamba juga tidak jauh berbeda dengan orang yang ada di dalam firman-Mu,
“Dan apabila kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. dan apabila mereka di timpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa” (QS. Ar-Ruum [30] ayat 36)

Maka dari itu ya Rahim, sekali lagi hamba benar-benar mengakui kekeliruan itu semua pada-Mu. Hamba benar-benar takut bila kelak Engkau tidak lagi sudi menggubrisku di peradilan Mahsyar. Ya Rabb, ampuni diriku, tolong berikan secercah kasih sayang-Mu lagi, tolong berikan seberkas cahaya makna di dalam hatiku agar hamba bisa jauh memperbaiki diri dan kembali kehadirat-Mu dalam senyum kebaikan.

Ya Rahman, Engkau adalah Maha Pengasih namun hamba bukanlah ahli surga dengan segala kesalahan yang dilakukan. Betapa besar pembangkangan yang telah hamba lakukan selama ini hingga sangat malu rasanya ketika menghadap-Mu. Tak patutlah bila dengan kemaksiatan-kemaksiatan itu hamba masih mendapatkan nikmat besar dari-Mu. Sungguh betapa banyaknya kesalahan yang telah hamba lakukan terhadap-Mu, tak sanggup diriku menghitungnya karena akan banyak melebihi butiran pasir di pantai. Ya Rahim, ampunilah hamba-Mu yang hina ini, ampuni atas semua ketidakpatuhan terhadap apa yang digariskan dalam syariat-Mu, agar hamba bisa kembali pada-Mu dalam bentuk yang fitrah.

Kutatap diri ini lewat cermin waktu yang telah terlewati.
Disana tampak jelas segelintir amal kebaikan
dan tidak menutup semua
dosa keburukan,
kepada diri yang khilaf ini juga bagi mereka yang fana itu.
Oh… wahai Engkau Yang Tauhid,
Perkenankanlah tobatku ini…

Saudaraku yang terkasih, mari mulai dari sekaranglah dirimu perbaiki bentuk kelakuanmu dihadapan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat. Mengapa demikian besar aku mengajakmu pada kesempatan kali ini? Itu semua oleh sebab sudah tidak ada waktu lagi untuk kita bermain-main dan menunda kesempatan yang telah diberikan. Bukan saatnya lagi bagi kita mengabaikan kesempatan yang oleh Allah berikan karena kau sendiri tidak akan pernah tau kapan kesempatan itu akan dicabut dari kehidupanmu. Engkau tidak akan berdaya bila waktu yang diberikan dengan kemudahan pertobatan itu pergi dalam waktu sekejab tanpa berpamitan. Seperti contohnya ajalmu sendiri, kau tentu tidak akan pernah tau kapan itu akan datang menghampiri dan kemudian menyudahi segala kenikmatan yang dialamatkan padamu selama di dunia.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas akhir ajal, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al-A`raaf [7] ayat 34)

Wahai saudaraku yang berpikir, takutlah dirimu pada perihnya azab Allah di yaumil akhir. Sedihlah bila engkau mendapati dirimu setelah berbuat dosa namun tidak segera bertobat pada-Nya, karena Allah sendiri telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu telah kami sediakan siksa yang pedih” (QS. An Nisaa’ [4] ayat 18)

Dan penuhilah kemuliaanmu kembali dengan segera berserah diri dan memohon ampunan di kehadirat Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih. Mulai dari sekaranglah mari jauhkan hati dan jiwamu pada kondisi yang penuh dengan kehinaan dan ruang kemunafiqkan, agar nanti dapat bergabung dengan mereka yang masuk kedalam umat Muhammad SAW terkasih dan benar-benar telah beruntung dihadapan Allah SWT.

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan[1]. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Al-Anfaal [8] ayat 29)
[1] artinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang Haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.

”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu[2]. dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. At-Taghaabun [64] ayat 16)
[2] Maksudnya: nafkahkanlah nafkah yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami, cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. At–Tahrin [66] ayat 8 )

Begitulah peringatan dan janji kebaikan dari Allah kepada kita umat-Nya yang berpikir, dan ini akan sangat berkaitan erat di dalam kehidupan kita. Bahkan jika kau menyadari dan terus mengistropeksi diri maka bersamaan itu pula akan tampak jelas berderet kesalahan dan dosa yang terlaksana olehmu. Antara dosa dan pahala maka lebih banyaklah dosa yang ada pada catatan kehidupanmu selama ini. Macamnya pun beraneka ragam, baik antara dirimu kepada Allah (Habluminallah) ataupun terhadap sesama makhluk Allah di alam semesta (Habluminannas) ini. Yang jelas dosa itu begitu banyak hingga tidak akan sanggup di pikul oleh sebuah gunung sekalipun.

”…… “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[3] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Ali-Imran [3] ayat 147)
[3] yaitu melampaui batas-batas hukum yang telah ditetapkan Allah SWT.

Saudaraku yang budiman, selama bergaul dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maka selama itu pula kita terkadang sering berbenturan diantara kebaikan dan keburukan. Keduanya dalam satu waktu sering pula meminta kita untuk segera memutuskan hasil akhirnya dengan cepat. Namun sayangnya diantara kedua sifat (kebaikan dan keburukan) tersebut terkadang dengan kasat mata akan sangat sulit dipisahkan antara mana itu kebaikan dan mana pula itu keburukan. Keduanya sering tampil dalam wajah yang samar dan kitapun seakan-akan tidak bisa melihat dimana perbedaannya. Sehingga jika salah memilih maka akan berdampak pada kehinaan saja di mata Allah SWT, dan rahmat serta ridha yang sangat diharapkan ketika berhadapan dengan-Nya di hari waktu pertanggungjawaban akan sirna dan tidak berbekas, atau bahkan akan malah berbalik menjadi azab dimata Allah. Ingatlah sekali lagi wahai saudaraku sekalian, segala perhiasan dan keindahan dunia itu adalah godaan yang nyata bagimu. Semua itu adalah seleksi yang harus kita lalui agar kelak menjadi mereka (hamba) yang terbaik dimata Allah. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (QS. Al-Kahfi [18] ayat 7)

Jadi saudaraku, janganlah dirimu terus berkubang di dalam lubang yang penuh dosa itu dengan tidak jauh lebih berhati-hati dalam bersikap. Ada baiknya sebelum memutuskan sesuatu, maka kau sendiri harus menanyakan pada hati kecilmu karena disana akan ada sebuah kata yang senantiasa mengajakmu pada kebenaran semata (baca kembali bagian “Kata Hati”). Kemudian cari hal-hal yang dapat mendukung kata hatimu tersebut dengan menggali kaidah yang terdapat di dalam Firman Allah, Sabda Rasulullah atau bahkan suara alam semesta ini. Setelah itu barulah dirimu simpulkan untuk kemudian mengambil sebuah keputusan yang bijaksana.

”Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 267)

“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami” (QS. Al-Kahfi [18] ayat 88)

Wahai saudaraku terkasih, sadarkanlah dirimu sekarang karena kau masih tetap akan berjalan diatas muka bumi Allah ini. Perbaiki tingkahmu dan apakah dirimu sudah menyadari bahwasannya nikmat dan rahmat Allah padamu itu sudah sekian-banyaknya kau rasakan. Mulai dari membuka mata kemudian disaat tidur dan hingga kembali membuka mata ketika terbangun. Apakah tidak kau sadari selama itu pula nikmat dan karunia Allah terus saja mengalir dalam hidupmu. Dan mengenai hal ini Allah SWT telah berulang kali mengingatkan tentang nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita dalam surat Ar-Rahmaan:

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahmaan [55] ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 45, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77)

Subhanallah, memahami surat Ar-Rohmaan ini maka betapa perihal tentang besarnya nikmat dan karunia Allah ini telah berulang kali Dia tegaskan kepada kita sebagai seorang makhluk. Semua itu hanya bertujuan agar kita senantiasa sadar diri dan meng-agungkan kebesaran-Nya. Dan jika kita benar-benar menyadarinya maka tak pelak airmata dari kedua bola matamu akan mengalir dengan sendirinya sebagai ekspresi syukurrmu kepada Allah atas limpahan karunia selama ini, bahkan tetesan airmata itu juga merupakan perwakilan atas sebuah penyesalan besar betapa anugerah Allah itu tersia-siakan dalam kehidupan selama ini. Maka dari itu segeralah memohon ampunan pada-Nya karena,

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nisaa` [4] ayat 110).
Karena ingatlah,

“Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia” (QS. Ar-Rahmaan [55] ayat 78)

Saudaraku tercinta, sebagai manusia yang meskipun penuh dengan khilaf ini maka kita harus senantiasa melakukan segala aktivitas kehidupan dengan tetap dalam nuansa kebaikan, kebenaran dan jalan yang terus dipenuhi oleh ridha Allah SWT. Ini karena sejatinya diri kita adalah fitrah (suci) sebelum nafsu dan maksiat menguasainya. Selain daripada itu ini juga bertujuan sebagai bekal kita kelak di kehidupan yang kedua yaitu akherat.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr [59] ayat 18)

Karena Allah tidak akan pernah terlelap,
“Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin” (QS. Ar-Rahmaan [55] ayat 31)

Dan kepadamu mari,
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Al-Hadiid [57] ayat 21)

Sehingga kelak di yaumil akhir kita bisa duduk dan bercengkrama bersama penuh kebahagiaan dalam kenikmatan, sesuai dengan yang telah Allah janjikan hanya bagi hambanya yang beriman dan bertakwa.

Wahai saudaraku, sekali lagi marilah dirimu selalu mengingat dan mengagungkan Asma Allah hingga ruh terpisah dari jasad, sampai ajal itu datang menjemput. Ingatlah Allah dalam setiap tarikan napasmu, dalam setiap gerak kehidupanmu seperti zikirnya alam semesta dan segala isinya ini.

“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. raja, yang Maha suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al- Jumu’ah [62] ayat 1)

Dan untukmu,
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat” (QS. An-Nashr [110] ayat 3)

Saudaraku, semoga selama menjalani hidup dan kehidupan ini kita senantiasa berjalan pada garis yang sesuai dengan firman Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW. Sehingga kelak kita bersama bisa bahagia dalam taman janji Allah yang sungguh indah. Amin.

“…..Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS. Al A’raaf [7] ayat 151)

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam [19] ayat 33)

Wallahu a`lam bishshowwab.

[Cuplikan dari buku “Kajian Hati, Isyarat Tuhan” karya: Mashudi Antoro (Oedi`)]

Iklan

2 thoughts on “Sebuah Pengakuan

  1. subhanallah….. tulisan ini cocok banget buat dika untuk saat ini, sebuah perengungan dan doa yang begitu dalam
    makasi mas linknya… dika ga bisa coment apa” lagi …. 😦

    makasi untuk selalu mengingtakan dika mas….

    1. Amiin… syukurlah kalau emang begitu Dik, semoga bermanfaat.
      Udah nyante aja, gak usah sungkan gitu, wong tugas kita sebagai hamba Allah itu adalah saling mengingatkan (dakwah) kok…
      Okey… Makasih ya udah mau berkunjung n kasih komentarnya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s