Muak dan Benci

Bayangan dirinya terus berkelebat di dalam memori otakku. Senyumannya, bening matanya, manis bibirnya, hitam rambutnya dan segala keindahan yang ada pada dirinya dimana dulu membuatku mabuk dan larut dalam cinta, terus hadir dalam sunyiku. Oh sungguh cantik sekali dia dalam lingkaran waktu tempo dulu. Waktu yang menghantarkan aku pada warna-warni hidup dan kehidupan di alam maha karya Sang Pencipta Semesta.

Saat ini, diamku mematung dan hanya pikiran saja yang terus menyala dan berarak dalam kenangan masa lalu. Terpaan sepoi angin sore itu, tak bisa menyadarkan aku dalam tidur sadar yang letih, bahkan itu semua semakin membuai jiwaku bersama dengkuran lelap sia-sia harapan di masa yang telah terlampaui dalam hidup. Aku mencoba berpaling pada kenyataan yang sebenarnya telah terjadi. Aku berusaha untuk meninggalkan jejak yang ringan dan tidak tampak oleh mereka yang mencoba membuntuti derap langkah kisahku. Dan kuingin suatu saat nanti, aku bisa balas menancapkan belati yang berkarat kepada hati seorang yang benar-benar telah mencintaiku dengan ketulusannya.

Teruslah wahai kau angin sore untuk berhembus dan berlayangan dalam nuansa yang penuh dengan kebahagiaan, karena kelak keceriaan di hatiku ini akan terpendam di dalam lumpur yang muak dan penuh kebencian. Telah kututup semua celah yang memungkinkan cinta seperti waktu dulu merasuk kedalam ruang hatiku dengan mudah. Sudah kuhapus semua ketulusan dan pengabdian cinta yang dulu pernah mendiami relung dijiwaku.

Aku tidak berharap disuguhkan kenestapaan dan kebohongan sebuah cinta lagi, karena bagiku cinta adalah satu kesalahan terbesar dalam hidup, yang membuatku bodoh dan keliru karena telah mengabdikan hidupku hanya untuknya. Cinta hanya penyebab duka yang telah ada semakin bermekaran dan terus bersemi, karena cinta adalah hal yang abstrak dan semu saja. Dan saat ini tak ada sedikitpun rasa cinta itu lagi, sebab di dalam diriku yang ada hanyalah kebencian dan harapan kepada waktu untuk tidak memberkahi lagi dalam kenestapaan dan kedukaan hidup bersama cinta. Jika pun ada, sebenarnya itu hanyalah rasa kasihan dan keinginan untuk menciptakan kebahagiaan dalam rupa lain tanpa cinta.

Terbenamlah segera wahai kau mentari, karena sejak saat itulah hatiku akan tertutup dan gelap bagi mata cinta yang selama ini membuatku buta. Akan kuberikan pintu yang terbuat dari besi ketidakpercayaan dan kunci kekhawatiran saja pada sebuah makna cinta. Takkan ada lagi lentera yang menyilaukan pandangan mata ini,  sebab sebelumnya telah kupadamkan cahaya itu dari hidupku. Kuberikan pembatas yang sangat kokoh sehingga sekuat apa pun ia mencoba memasuki ruang yang ada di dalam kamar hatiku ini, maka sedikitpun takkan sanggup dilakukan, karena takkan ada yang dapat memasuki selain aku dan pemilik tangan yang tak terlihat.

Gejolak benci penuh dendam yang memboncengi hati dan pikiranku saat itu terus beriak dengan keras. Kesemua daya amarah yang ada pada diriku selalu saja membuat rasanya ingin teriak dan melampiaskannya pada kesunyian. Aku merasakan sesuatu yang berlainan dari biasanya ketika kenangan perih masa lalu menyelimuti memori otakku sekali lagi. Seperti pada sore itu, semua kenangan pahitku bersama seorang gadis telah kembali menyapaku dengan nuansa tertawanya. Entah mengapa bisa terjadi, namun yang jelas aku sangat benci pada setiap peristiwa itu, karena ia terus mencibirku dalam ejekan kehinaan. Ia terus mengolok-olok kebodohanku yang dulu pernah mengabdikan sebuah hidup hanya untuk cinta kepada seorang generasi Hawa. Dan sesekali nada suara gelak tawanya yang kencang itu membisingkan telingaku untuk mendengar napas alam semesta yang sejatinya adalah indah. Sehingga tanpa disengaja muka ku memerah menahan emosi dan menarik diri dari kehidupan yang sejatinya penuh dengan suka cita.

Yogyakarta, 30 Maret 2009
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Tulisan ini terangkai untuk mewakili hatimu yang pernah terluka dan kecewa oleh sebab cinta]

Iklan

5 thoughts on “Muak dan Benci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s