Indahnya Bershalawat kepada Rasulullah Saw

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Al Mu’min [40]: 18)

Kepada engkau saudaraku terkasih, kutanyakan kepadamu tentang seberapa besar rasa cintamu kepada Baginda Nabi Muhammad Saw?? Sudah sejauh mana pula wujud kecintaanmu itu terlaksana? Karena jika segala tindakan tidak di dasari rasa cinta yang tulus maka akan mengaburkan segala makna dan faedah yang ada. Dan cintamu kepada Rasulullah adalah penyelawat akhir dirimu di hadapan Allah pada saat hari waktu pertanggungjawaban.

Cinta adalah sumber dari segala perbuatan. Karena cinta akan senantiasa membawa hati dan jiwamu pada puncak kebahagiaan. Cinta yang dibarengi dengan keihklasan, ketulusan dan tuntunan yang benar tidak akan surut oleh penderitaan hidup. Bahkan ketika kita senantiasa melakukan sesuatu atas dasar mencintai maka meskipun terbebani oleh penderitaan dan siksaan hidup yang keras, kelak itulah yang dengan sendirinya bisa menuntun kita untuk tetap terseyum dan tiba pada puncak kemuliaan dan keridhoan Allah Swt.

Buat apa mencintai sesuatu bila akhirnya kelak itu pula yang menjerumuskan kita pada lembah dusta dan kemunafiqkan semata. Untuk apa mencintai sesuatu yang olehnya kelak dirimu terkurung dalam api yang menyala-nyala di neraka jahanam. Perbaiki cintamu, luruskan arahnya dan berpegang teguhlah pada syariat yang dituntunkan agar kelak engkau tidak menyesal dibelakangnya. Tingkatkan rasa cintamu itu dengan mengikuti aturan dan seperti yang di firmankan Allah di dalam Al-Qur`an surat Al Ahzab [33] ayat 6: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri[24] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)” Sehingga berdasarkan ayat diatas sudah sangat jelas bahwasannya kita sebagai umat harus mencintai Rasulullah itu melebihi cinta kita kepada anak, istri, karib kerabat, saudara, harta benda, bahkan diri kita sendiri.

Saudaraku yang tercinta, di dalam tubuh kita terdapat sebuah benda (daging) yang dengannya akan mempengaruhi segela aktivitas di hidup kita. Sebagaimana yang dijelaskan baginda nabi Muhammad Saw dalam sabdanya: “Dalam tubuh ini terdapat segumpal daging yang memotori semua anggota tubuh lainnya. Jika ia baik, semuanya pun menjadi baik; dan jika ia rusak, semuanya pun macet dan malfungsi. Itulah yang disebut kalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi kalbu/hati itu adalah sebagai patokan perilaku yang ada di dalam setiap diri seseorang. Baik ataukah buruk, semua itu akan terpengaruh oleh apa yang ada di dalam kalbunya. Karena sesuai keterangan hadist diatas, maka jelas ia akan mempengaruhi segala tindakan yang ada di dalam diri setiap manusia. Sehingga hati tersebut dalam fungsinya tidak akan bergerak dengan sendirinya, ia akan mengarah pula kepada apa yang didapatkannya dari perasaan dan pengertian kita juga. Ketika kebaikan dan rasa cinta yang terus diusung maka kebahagiaanlah yang akan senantiasa di dapatkan. Begitu juga sebaliknya jika hanya nafsu dan kemaksiatan yang dibangun maka akhir dari semua itu tentunya adalah sebuah penyesalan dan azab Allah yang sangat perih di neraka.

Saudaraku yang budiman, lantas jika demikian sekarang mari kita tanyakan lagi diri ini tentang sejauh mana rasa cinta kita kepada Baginda Rasulullah karena cinta Allah kelak kepada kita akan berdasarkan pula pada cinta kita terhadap kekasih-Nya yaitu Muhammad Saw. Jadi jangan sia-siakan hidupmu untuk mencintai sesuatu yang kelak akan mengalahkan kecintaanmu kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Allah menyindir kita tentang hal bershalawat didalam Al-Qur`an seperti: “Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong”. (QS. Al Baqarah [2] :123). “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Baqarah [2] :254). “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Al Mu’min [40] :18).

Saudaraku tercinta, di era modern dan globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan informasi dan teknologi komunikasi begitu berkembang dengan sangat pesatnya sehingga akan berpengaruh pula pada kebudayaan, tradisi, peradaban, trend dan mode bahkan sampai dengan gaya hidup yang dimiliki oleh setiap bangsa dan agama. Pengaruh dan daya tariknya akan sangat berdampak pada sisi sosial dan spiritual setiap insan manusia. Ada yang positif dan tidak sedikit pula yang berakibat sangat buruk bagi kehidupan. Sehingga pada banyak kesempatan maka setiap diri yang sadar akan adanya kehidupan setelah mati maka kita harus memasang filter dengan harapan terutama diri sendiri dan keluarga terbentengi untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan, baik selama menjalani hidup dan kehidupan di dunia maupun kelak di akherat.

Salah satu contoh filter itu adalah senantiasa menumbuhkan rasa kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah Saw dengan bershalawat kepadanya. Terserah yang mana, tapi yang penting kita kerap mengucapkan shalawat itu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Bisa yang singkat atau yang panjang. Bisa sendirian atau dengan cara bersama-sama dengan orang lain. Yang penting kecintaan yang agung itu diwujudkan dalam sebuah tindakan yang nyata.

Kecintaan kita kepada kekasih-Nya Muhammad tanpa pamrih akan menyelamatkan diri ini. Di dunia, maka kita akan terus meningkatkan ibadah kepada Allah Swt karena biasanya orang yang sedang jatuh cinta akan senantiasa mengikuti perilaku orang yang dicintainya (Rasulullah Saw) sehingga ridha Allah pun akan menyertai. Sedangkan di yaumil akhir kelak tentunya kita mendapatkan syafaat dari baginda nabi Muhammad sehingga bisa terselamatkan pula dari siksa Allah Swt di neraka jahanam. Maka sungguh itu merupakan kebahagiaan dan keindahan yang tidak akan mungkin di dapatkan selama hidup di dunia ini. Engkaupun akan terus bercinta tanpa henti dengan kekasih Tuhan itu, sebagai imbalan rasa cinta yang kau usung dan wujudkan dalam aktivitas kehidupanmu. Karena jiwa dan ruhmu tidak akan merasakan mewangi dan keindahan itu jika tak seiring dengan mereka yang shalih dan cinta kepada Rasulullah Saw secara mendalam pula.

Marilah saudaraku sekalian, kita tingkatkan kembali rasa cinta kita itu dengan senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Saw, minimal ketika usai melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Minimal ketika dirimu memanjatkan doa kehadirat Allah dengan sebelumnya mengucapkan “Allahumma shalli ala saidina Muhammad wa `ala ali saidina Muhammad” dengan penuh cintanya. Tautkan terus hatimu lurus kepada Nur Muhammad demi mendapatkan syafa`at darinya. Karena mungkin dari yang sedikit itulah nantinya akan menjadi tolak ukur dirimu untuk terus meningkatkan wujud cintamu. Sehingga pada akhirnya kau akan terus berusaha untuk senantiasa bershalawat dan meningkatkan rasa cintamu kepada baginda Rasulullah Saw secara ikhlas di sepanjang hidupmu.

Wahai saudaraku, siapakah diri yang tidak mengharapkan pertemuan di yaumil akhir dengan kekasih-Nya itu dalam penerimaan senyuman termanisnya. Siapakah mereka yang telah memeluk Islam kemudian tidak ingin melihat wajah kekasih-Nya yang paling rupawan itu dalam kedekatan, sebab kebagusan dan ketampanannya membuat iri para malaikat dan seluruh penghuni surga. Sinar yang memancar dari dirinya adalah cahaya makna keindahan yang teramat indah dan akan senantiasa menawan ruhmu pada tempat yang tersusun dari dasar kemuliaan. Ya Muhammad, di hadapan Allah kelak di yaumil akhir, terimalah kami sebagai diri yang teguh pada kecintaan terhadapmu. Masukkan kami kedalam golongan mereka yang cinta dan kasihsayangnya tidak melebihi kecintaan terhadap Allah dan dirimu. Tularkan wangi-wangi cinta itu kedalam kalbu kami, sehingga kami dapat bercinta denganmu di sepanjang waktu hidup ini.

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang mencintai Allah Swt dan baginda nabi Muhammad Saw melebihi kecintaan kita terhadap yang lain. Amin.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Jgy, Februari 2009
Oedi`

[Kutulis dalam linangan airmata pada saat kerinduanku sungguh memucak kepada cahaya itu]

Iklan

7 thoughts on “Indahnya Bershalawat kepada Rasulullah Saw

  1. Memang tiada ternilai hakekat shalawat itu.
    Trim atas ajakan Anda dalam era global dalam lingkungan workneting ini, benar saya ikut bisa merasakan kerinduan yang tersalur lewat shalawat. Semoga teman-teman bisa menikmati bershalawat dalam keasyikannya berkiprah di internet ini.. dan alangkah mulia kita kelak memetik syafaat Nabi saw.!!!!!

    1. Terimakasih karena Anda telah sudi membaca tulisan yang sangat sederhana ini. Dan terimakasih juga atas komentar yang telah diberikan.
      Jujur, memang benar yang Anda katakan sebelumnya, bahwa di era global seperti sekarang ini maka lingkungan workneting adalah langkah lain dalam mengajak para saudara untuk bershalawat. Karena Shalawat adalah sebuah keindahan dimana ujungnya adalah berkah kemuliaan dihadapan Tuhan. “Sungguh hatimu akan menangis bahagia ketika tenang merasakan nikmatnya bershalawat itu”
      Mari saudaraku, mari kita kibarkan semangat cinta lewat shalawat kepada Rasulullah Saw.
      Semoga kita kelak memang termasuk kedalam golongan hamba yang beruntung…Amiiin.

    1. Amiin…
      Terimakasih mas sudah menberikan komentar pada tulisan ini. Btw gimana kabarnya??
      Namun “orang yang murah hati” bagiku sendiri adalah perihal yg harus aku kejar lebih giat lagi karena itu belum aku rasakan. Aku masih kikir terhadap nikmat Tuhan, aku terkadang masih pelit untuk sekedar bershalawat kepada Nabi, aku masih enggan mendoakan dan membantu sesama, aku masih jauh dari sifat dermawan sekalipun…
      Pokoke doakan aja mas, semoga kelak kita bisa bersama-sama duduk diatas altar kemuliaan yang dilandasai atas dasar cinta dan kasihsayang sejati…
      Terus maju saudaraku….

  2. Terima kasih kang Oedi.
    Nyata sekali kedahsyatan sholawat. Aku sudah mencoba dan merasakan saran sampean. Betapa indahnya bersholawat. LAma kelamaan bergetarlah hatiku. Tumbuh di dalam sanubari rasa rindu pada baginda yang senantiasa aku sebut. Aku benar-benar ingin ketemu dengannya. Bukan hanya namanya, tapi aku rindu wajahnya. Aku sebut Baginda setiap saat. Saat ku sebut namanya timbul hasratku ingin bertemu.
    Ya Allah pertemukan aku dengan kekasihku yang selalu ku sebut namanya.
    Saya jadi yakin, dengan memperbanyak sholawat, aku semakin cinta kepada Baginda Rasulullah, terdorong dalam diriku untuk selalu melaksanakan permintaanya, perintahnya dan sunnahnya. Subhanalloh.

    Sementara orang bilang “buat apa sholawat kalau tidak mengerjakan sunnahnya.” orang yang beranggapan seperti ini mungkin belum merasakan kedahsyatannya” Cobalah kawan, baru berkomentar. Oke.
    Thank U, Mas Oedi, Semoga Rasulullah mencurahkan syafaatnya kepada Mas Oedi. Amin

    1. Alhamdulillah jika begitu yang telah menyelimuti diri mas Imron, saya sangat bahagia mendapatkannya. semoga syafaat Rasulullah Saw juga menyapamu kelak di yaumil akhir.
      Kembali saya ucapkan terimakasih banyak karena panjenengan telah sudi membaca ajakan ini. terlebih jika diteruskan kepada mereka yang lain (kaum Muslimin).
      Sungguh benar adanya bahwa dengan bershalawat saja kita sudah mendapat banyak kenikmatan dan kebahagiaan kalbu, bagaimana dengan kelak janji Allah yaitu syafaat Baginda Rasulullah Saw di hari waktu pertanggungjawaban?? tentu akan jauh lebih dahsyat akan terasa nikmat itu bagi sekujur jiwa raga.
      Saudaraku mas Imron, saya sependapat dengan jenengan bahwa kita sebagai hamba yang hina ini janganlah terlalu memperdulikan anggapan orang yang mengatakan “buat apa sholawat kalau tidak mengerjakan sunnahnya.” karena itu akan semakin merendahkan diri kita kelak di hadapan Allah. Orang-orang yang mengatakan hal yang sedemikian itu bisa ditebak bahwa dia sendiri belum merasakan betapa nikmat dari bershalawat itu, makanya selalu menganggap sepele. Dan saya menyakini bahwa orang yang mau bershalawat maka tentu akan dengan mudah mau melaksanakan sunnah dari Rasulullah Saw.
      “Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana dengan mereka yang dari awal sudah tidak mau bershalawat???”
      Mari saudaraku, giatkan semangat untuk bershalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw.
      “Ya Muhammad aku sungguh rindu kepadamu”
      “ya kekasih Allah perkenankanlah kami”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s