Kiyai vs Tukang es Cendol (Kisah bergurunya seorang guru)

Saudaraku sekalian, salam sejahtera untuk kita semua. Salam cinta dan kasih sayang kepada engkau yang melabuhkan hati pada puncak ketenangan hidup. Salam kebahagiaan sebahagia hati yang merindukan cahaya penuh makna keabadiaan hakiki. Salam kedamian, sedamai hatiku yang menyapamu dalam rangkaian tulisan ini.

Pada suatu masa, satu waktu yang telah berlalu dalam gerakan perlahan para detik. Maka kisah ini pernah terjadi diantara dua cucu Adam di dunia. Perjalanannya diawali dengan kisah seorang kiyai pimpinan sebuah pondok pesantren yang akhirnya belajar banyak dari seorang tukang es cendol.

Kiyai tersebut terus bercerita tentang pengalaman dan pelajaran hidup yang telah ia dapatkan bahkan dari seorang tukang penjual es cendol. Pelajaran itu baginya adalah sangat bermakna dan merupakan tamparan perubahan sikap dan akhlak yang kini terus ia terapkan di dalam hidupnya. Ia mengatakan bahwa pada suatu hari ia akan kedatangan beberapa tamu besar di rumahnya. Para tamu itu tidak lain adalah rekan sejawatnya (kiyai) dari pondok pesantren di beberapa kota di sekitar kota kediamannya. Kemudian demi menjamu para tamunya dan berhubung siang itu cuacanya cukup panas maka sang kiyai berinisiatif untuk menyuguhkan minuman segar yang tiada lain adalah es cendol. Kebetulan tidak jauh dari kediaman dan komplek pondok pesantrennya ada seorang penjual es cendol yang tersohor karena kelezatan rasanya. Meskipun tempat mangkalnya hanya di pinggir pematang sawah dan tepat dibawah sebuah pohon mangga. Tempat dagangannya juga hanya berupa gendongan (terdiri dari dua buah gentong yang terbuat dari tanah beserta isinya dan segala peralatannya yang di pikul menggunakan tali dan diikatkan pada sebilah bambu), cara menyajikan juga masih sangat sederhana dan bagi para pengunjung biasanya hanya duduk lesehan diatas tikar pandan yang disediakan. Namun meskipun demikian, pelangggan yang datang kesana bahkan tidak hanya penduduk sekitar pesantren melainkan mereka yang berdomisili jauh di beberapa kota tetangga.

Waktu terus beranjak dan suhu panas siang itu semakin memaksa sang kiyai untuk segera mencari segarnya es cendol. Dengan berjalan kaki dia perlahan menuju tempat si penjual es cendol dalam menjajakan dagangannya. Setiba disana, terang saja seperti kebiasaan masyarakat jawa bila menerima tamu/pelanggan seorang kiyai maka sikap yang ditunjukkan adalah penghormatan yang begitu besar pada kiyai tersebut. Ini dilakukan bukan untuk meng-kultuskannya tetapi sebagai wujud penghormatan kepada orang yang dianggap sudah tinggi tingkat pemahaman ilmu agamanya. Setelah sedikit berbasa basi maka sang kiyai terus mengutarakan maksudnya datang kesana yang tiada lain adalah membeli es cendol. Karena tamu yang datang nanti cukup banyak maka sang kiyai pun berniat untuk memborong semua dagangan si tukang es cendol hari itu. Namun apa yang terjadi? Jawaban dan sikap yang di tunjukkan oleh si tukang es cendol sungguh di luar dugaan sang kiyai, sikap yang diberikan oleh si tukang es cendol pada waktu itu sebenarnya simpel tetapi jika dikaji lebih dalam maka makna yang didapatkan adalah sebuah pelajaran fiqih, aqidah yang sangat luar biasa. Dan dari situlah sang kiyai mendapatkan banyak pelajarannya.

Dengan sikap tenang untuk menolak permintaan sang kiyai yang hendak memborong dagangannya, si tukang es cendol perlahan menjawab “Maaf kyai, sungguh berkah bagi saya bila kyai hendak memborong semua dagangan saya hari ini dan tentunya itu akan sangat menguntungkan bagi saya, karena olehnya saya tidak perlu lagi berlama-lama dalam menjajakan dagangan, sehingga bisa cepat pula mendapatkan keuntungan dan beristirahat pulang kerumah. Namun ada satu hal yang mungkin kiyai lupa atau bahkan belum tahu, bahwasannya saya berdagang itu karena hendak pula saling menolong dan membahagiakan sebagian orang-orang. Tidakkah kiyai ketahui bahwa orang yang berkepentingan dengan es cendol saya ini tidak hanya satu atau dua orang saja melainkan mereka yang juga adalah seorang petani, pegawai, santri, anak-anak, orang tua, dan mereka adalah pelanggan tetap di setiap harinya. Bahkan terkadang mereka juga sangat membutuhkan es cendol ini untuk sekedar melepaskan dahaga. Lantas bagaimana jika hari ini saya menerima permintaan kiyai agar semua dagangan saya di borong? Berarti kalau begitu saya sama saja tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka nantinya? Dan saya juga turut membuat mereka kecewa serta tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Terus terang saya tidak mau peristiwa itu terjadi karena tentunya akan banyak mudharotnya kelak baik bagi saya sendiri juga bagi para pelanggan saya. Dan saya sangat takut jika kelak Allah Swt murka kepada kita semua di yaumil akhir karena melakukan tindakan keliru ini”

Mendapatkan jawaban sedemikian dari si tukang es cendol, sang kiyai langsung tersadar dan tidak disengaja airmatanya telah mengalir karena tahu bahwa ia telah keliru, pemahaman ilmu agama dan sikap yang dimilikinya selama ini dirasa masih jauh rendah bila dilihat dengan gelarnya sebagai seorang kiyai pimpinan sebuah pondok pesantren. Pemahaman yang ia miliki dirasakan masih kalah jauh rendah dibandingkan dengan seorang tukang es cendol. Sehingga ia pun berkata pada si tukang es cendol “Subhanallah, pada hari ini Allah Swt telah menunjukkan kembali akan kebesaran-Nya dan memberiku sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidup ini. Allah kembali menegurku dengan peristiwa saat ini. Itu semua adalah melalui dirimu pak, dimana semua yang barusan kau katakan adalah sangat benar adanya dan aku sangat keliru dalam hal ini. Aku tidak menyadari konsep mendasar dari aqidah dan syariat Islam bahkan Hablumminannas (hubungan antar sesama manusia), padahal seharusnya itu terus di jalankan di dalam kehidupan ini. Sungguh aku berterimakasih untuk sebuah pelajaran yang sangat berharga ini dan untuk itu berarti aku hanya akan membeli daganganmu sesuai dengan kebutuhann yang sebenarnya cukup dengan 10 gelas es cendol saja”

Saudaraku terkasih, begitulah pengalaman bergurunya seorang guru agama kepada seorang tukang es cendol. Dan dari kisah diatas baiklah kita mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga seperti sikap sang kiyai yang akhirnya mengakui kekhilafannya karena ketinggian pemahaman ilmu agamanya dikalahkan oleh seorang yang hanya sebagai penjual es cendol. Meskipun si tukang es cendol bukan seorang kiyai tetapi sikap dan pemahaman yang diberikannya sungguh sangat luar biasa, bahkan meskipun seorang kiyai maka tidak banyak yang menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Karena kita terkadang lebih egois terhadap kepentingan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Kita terkadang memikirkan diri sendiri dan lupa akan hak serta kebutuhan orang lain. Kita terkadang merasa sudah memahami ajaran dan dalil agama sedalam samudra padahal sebenarnya dalam praktek kehidupan sehari-hari sejengkalpun belum tentu dimiliki.
”Ya Allah… Hamba terkadang tergesa-gesa dan penuh keluh kesah karena dangkalnya ilmu dan pendeknya jangkauan akal terhadap rahmat-Mu.” (Jgy, 02 Maret 2004, Oedi`)

Maka dari itu wahai saudaraku tercinta, mari mulai dari sekarang kita kembali menginstropeksi diri ini bahwa sebenarnya sudah sejauh mana kita memahami ajaran agama yang kita yakini ini. Karena Tuhan tidak menilai kita itu jika diri ini seorang kiyai atau orang biasa, tetapi Dia melihat kita atas dasar kadar iman dan taqwa yang dimiliki. Jangan sampai kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang kelak merugi di yaumil akhir, karena hanya memahami sebuah ajaran agama secara kulit luarnya saja dan tidak mengambil apa yang menjadi isi didalamnya.

Semoga kita terus dijauhkan dari sifat tidak terpuji agar kelak di yaumil akhir kita mendapat ridho dan cinta kasih dari Allah Swt. Amin.

Jgy, 18 Februari 2009
Oedi`

Iklan

One thought on “Kiyai vs Tukang es Cendol (Kisah bergurunya seorang guru)

  1. Tot fac cercuri in jurul acestei carti prin librarii – de o saptamana. Nu ma pot decide sa o iau. Poate ar trebui sa ma grabesc, denu am toate sansele sa patesc ca cu "eat, pray, louoeqv&t;, pe care nu o mai gasesc in nici o librarie.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s