Bidadari Ku (Part 3)

Nuansa indah di keharibaan sang waktu, berlanjut rapat sekali bersama kebahagiaan yang kita rasakan saat ini. Kau manis sekali, karena tersenyum dalam suka cita. Kau cantik sekali saat ini wahai bidadari ku. Oh jiwa-jiwa yang bersih, senandungkanlah kidung-kidung penggugah cinta dan kasih sayang sejati lagi kepada kami. Tebarkan wangi Syurgawi dan tampilkan juga indahnya nirwana. Agar kekasihku ini terus menyunggi kesenangan dan kegembiraan di setiap langkah hidupnya. Palingkan kenestapaan, karena aku yakin kami tetap akan setia berdampingan erat dalam pelukan hangat cinta dan kasih sayang.

Pada saat bersamaan dimana aku sekarang tepat berada dihadapanmu wahai cantikku, maka derap aliran darah ini akan terus berselancar tanpa merasakan lelah. Gema janji setia juga memenuhi ruang hatiku yang terang benderang karenamu. Juntai-juntai keinginan dan kepercayaanmu untukku, telah menambah tegarnya prinsip dan kenyakinan di dalam diri ini untuk terus kokoh berdiri. Sikap narimo yang terus kau berikan, membawa angin segar dan percaya diri yang sangat tinggi bagi jiwa dan hatiku untuk maju. Terimakasih wahai bidadari ku, karena kau telah sedia mendampingiku selamanya dalam cinta dan kasih sayang abadi ini.

Oh bidadari ku… telah bertabur banyak cahaya makna kenikmatan di jiwaku. Sudah terpenuhi pula ruang hatiku dengan keindahan yang Tuhan turunkan untukku melalui dirimu saat ini. Bahkan tabir rahasia yang selama ini di sembunyikan-Nya agar aku tetap bersabar telah terjawab, karena kau akan mendampingiku dalam bahtera kehidupan ini. Maka dari itu, kusambut kesenangan ini dalam tafakur dan sujud syukur mengharap ridha-Nya selalu. Memastikan bahwa hati kita berkeinginan bukan atas dasar nafsu serakah, melainkan oleh sebab cinta yang sesungguhnya dari hati. Kuinginkan pula kita melangkah dan menaiki biduk ini bersama tawakkal, ikhtiar dan doa tulus kehadirat-Nya. Tanpa ada pamrih yang memboncengi di belakang atau pun di sekitar hati yang sendiri. Karena itulah pembeda bagi setiap hamba yang berakal dan berpikir. Dan kunginkan kau mengikutiku sebagai makmum serta memperingatkan aku ketika mulai noleng ke arah kiri kehidupan.

Wahai separuh hatiku, wahai cintaku, larutkanlah jiwamu terus bersama penghaturan kepada Sang Maha Pengasih. Bentangkan luas ketulusan dan pengabdian ikhlas di setiap langkah hidupmu, karena aku akan selalu mendampingimu. Oh engkau yang menjadi bidadari ku, maka mulai saat ini mari kita genggam erat-erat cinta dan kasih sayang ini, menuju cinta dan kasih sayang-Nya yang abadi selamanya.

Yogyakarta, 06 Januari 2009
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Kutuliskan cinta ini untuk seorang gadis yang kelak menjadi bidadariku selamanya]

Bidadari Ku (part 1) (part 2)

Iklan

2 thoughts on “Bidadari Ku (Part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s