Bidadari Ku (Part 1)

Wajah cerah hari memberikan segudang kebahagiaan dan menampakkan gelora begitu membara di dalam kalbu seorang anak manusia. Itu terjadi oleh karena ia sendiri telah lama hening menantikan bahagia kehidupan. Satu dua napas terus bersusulan menapaki setiap detik kepada hari. Menyatukan larik hati dalam peraduan keindahannya. Saat kangen dan asa telah menyatukan semua harapan,  maka disaat bersamaan pula telah hadir seberkas cahaya penuh makna. Ia melenggang masuk tanpa basa-basi, kepada hati yang sedikit meredup sunyi oleh waktu. Dengan riang gembira, jilatan cinta pun membalur di setiap inci hati, kemudian mengusik kenestapaan untuk segera menjauh pergi. Ah… sungguh betapa indahnya sebuah perjumpaan yang menjadi warna-warni perjalanan kisah ini.

Terus terpana penuh kagum, kudapati panenan kali ini bermakna keindahan, kecantikan, dan keanggunan seorang gadis. Setiap ucapan yang keluar dari bibir manisnya, menghibur jiwa raga untuk terbang ke nirwana cinta sejati. Bahkan semua gerak tingkah lakunya, menyuguhkan sopan santun serta budi pekerti yang luhur. Penantian yang terus terjaga dengan keikhlasan, kejujuran dan tidak membagikan barang secuil pun cinta ini kepada gadis yang bukan dipersiapkan Tuhan untukku, terasa berbalas kemuliaan hidup. Pertemuan dalam keharibaan yang agung bersemayam erat pula di rongga kerinduanku. Membuat alam semesta mengenggam rapat waktu kepada kesempatan perjumpaanku. Dan gemericik dendang hujan memberikan hiburan yang teramat syahdu di cuping telinga jiwa kami berdua. Mencekal kesunyian, menggantikannya dengan riuh dan ramai kebahagiaan persandingan.

Layaknya kecantikan yang telah Tuhan ciptakan dalam kehidupan semua makhluk-Nya, maka kesemua keindahan itu telah hadir di jiwa dan raganya. Kebagusan dirinya tak tergambarkan dalam lukisan para seniman. Tak tersyairkan oleh para pujangga kenamaan, oleh sebab aura yang berkilau dari dalam dirinya adalah kemuliaan yang Tuhan turunkan kepada hamba-Nya yang terpilih. Tidak ada kecantikan bidadari yang terwakilkan dalam parasnya, karena dialah sebenarnya bidadari itu. Demikian pula yang terbentang di hatiku ini, ia akan semakin melebar mengikuti arah bersamanya dan menawarkan keridhaan cinta Sang Maha Agung.

Oh bidadariku… cerahlah di mendung hari-hariku, terbanglah tinggi ke atas angkasa jiwaku, raih semua harapan di balik awan itu dan jangan pernah kembali dalam kesedihan, karena dukamu akan menyangkuti hatiku pada penderitaan yang sangat dalam. Kepakkan sayap-sayap jiwamu untuk kembali terbang bersamaku menuju janji-Nya. Menarilah bersama iringan musik Syurgawi dan para pengembala Tuhan. Padamkan nyala api di jiwamu dengan air kesabaran dan keikhlasan. Dan jangan bersedih, karena kesedihan hanya akan menampakkan raut ketakutan dan tidak percaya diri. Sedih juga akan meredupkan semangat dan memudarkan kebahagiaan kita berdua. Raihlah citamu menuju cinta sejati-Nya. Karena aku akan selalu bersamamu…

Yogyakarta, 03 Januari 2009
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Kutuliskan cinta ini untuk seorang gadis yang kelak menjadi bidadariku selamanya]

Bidadari Ku (part 2) (part 3)

Iklan

2 thoughts on “Bidadari Ku (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s