Aroma Ijab Kabul

Pagi itu ku perhatikan disekitarku ada semacam aroma kebahagiaan yang terkubur bersama keramaian suasana. Keindahan yang harusnya tampak jelas didepan mata ternyata hilang begitu saja dari harapan. Menguap tanpa meninggalkan kesan yang mendalam bagi jiwa dan memori otak setiap anak manusia.

Kala itu semangatpun perlahan beranjak menjauh dan hilang seiring sikap yang kau berikan pada jiwaku yang sejatinya telah meredup. Sinar yang dulu senantiasa kau berikan disaat sunyi dan gundahku telah menyicil pergi jauh dari sisi kanan dan kiriku saat ini. Sebuah tarikan makna yang sulit untuk diambil karena begitu menyakitkan oleh siapapun yang terkuat didunia ini. Oh betapa semuanya tidak pernah sedikitpun terlintas di otakku untuk mengharapkan semua ini bisa terjadi. Jangankan mengalami dan melakukannya, berniatpun tak pernah sedikit kulakukan. Karena sejak pertama hatiku akan terus terpaut dan menempel rapat pada hati dan jiwamu. Kesetiaan yang selama ini telah terbangun takkan hilang terkikis oleh waktu bahkan ia senantiasa akan selalu tegar menghadapi kerasnya deru ombak kehidupan ini. Aku akan selalu berusaha karena yang kutau kau adalah terindah dari yang pernah aku kenal selama hidup ini.

Waktu terus bergulir dari tempat awalnya dan terus melewati rentang yang telah menjadi kodratnya untuk beranjak. Kesunyian yang melanda jiwaku terus sepi dan seolah-olah mengajakku kedalam ruang yang hanya kelam tanpa sinar cerah kebahagiaan. Dan di pagi itulah kebahagiaanmu tak seiring dengan kebahagiaan yang ada di hatiku. Wahai gadis, kesenanganmu tak sejalan dengan kegembiraan yang aku dapatkan. Suka citamu tak mencerminkan kepedihan hatiku. Karena pagi itu kau terbalut bahagianya akan persandingan, pagi itu kau ternaungi di bawah ijab kabul pernikahan dan di pagi itu juga kau telah resmi menjadi nyonya tuan rumah selamanya.

Aku hanya diam dan terpaku lemas di sudut bangku yang tak jauh dari per-sumpahan setia itu. Setiap perkataan yang meluncur dari bibir sang lelaki itu telah seraya menusuk-nusuk hatiku. Dan kata-kata kepastian serta keyakinan untuk menikahi gadis itu telah pula menyesakkan dadaku ini hingga terpaksa untuk mencuri pandang kepadanya pada saat-saat terakhir yang mungkin bisa kulakukan. Setelah berkesempatan melihatnya maka entah mengapa tampak jelas dari matanya mengalir airmata yang tak ku tau apa maknanya. Mungkin saja itu adalah pengejawantahan atas kebahagiaannya dengan pernikahan itu atau mungkin saja bisa sebaliknya. Itupun jika rasa yang didalam sanubarinya telah sama dengan rasa yang memenuhi ruang hatiku saat itu.

Oh.. semua yang menyelimuti hatiku saat itu adalah kepedihan, kesedihan, kekecewaan, dan kesunyian yang begitu dalam melekat pasti. Sehingga olehnya tak kuasa lagi diri ini untuk bertahan hadir di pelataran ijab kabulnya. Akupun sigap beranjak kesisi lainnya yang jauh lebih lapang dari kebahagiaan pernikahannya itu. Aku melangkah pergi dalam kepedihan dan kebahagiaan yang menjadi satu. Kepedihan oleh perpisahan dan kebahagiaan karena hingga akhir pertemuan itu maka kesetiaan yang dulu pernah kujanjikan padanya telah bisa terus kupenuhi.

Selamat atasmu dan kebahagiaan selalu aku haturkan kepada Tuhan untuk langkah yang telah kau pilih. Pesanku padamu, maka jadilah istri yang sholehah.

Jgy, 28 Jan 09
Oedi`

[Kutulis entah karena apa aku bisa merangkainya…]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s