Puasa Lahir dan Batin

Posted on Updated on

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Bagi umat Islam, puasa bukanlah suatu hal yang aneh karena ajaran ini telah ada di dalam rukun Islam itu sendiri dan pada kenyataannya telah dilaksanakan oleh banyak umat Islam di dunia hingga saat ini. Namun dalam setiap pelaksanaan kewajiban yang menjadi rukun bagi setiap diri pribadi umat Islam ini banyak diantara kita tidak menjalaninya dengan baik dan sesuai dengan konsep dasar yang ditanamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Rasulullah SAW bersabda “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”

Puasa yang diwajibkan agama ada dua macam, pertama, puasa lahir, puasa yang menjauhkan diri dari makan, minum, dan hubungan seks dari terbit fajar hingga tenggelam matahari. Sedangkan untuk puasa jenis kedua adalah puasa batin. Puasa yang menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Dengan kata lain puasa batin adalah meninggalkan ketidakselarasan baik lahir maupun batin. Sedikit saja niat buruk hinggap di hati maka puasanya telah rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, maka puasa batin dijalani selama-lamanya. Selama masih hidup di dunia bahkan hingga kehidupan di akherat kelak. Dan itulah puasa sejati.

Kemudian perihal berbuka puasa itu sendiri, ada dua macam tingkatannya bagi Allah. Yang pertama ada orang yang berbuka dari puasanya ketika tenggelam matahari dan kedua apa pula orang yang masih dalam keadaan berpuasa meskipun mereka ia telah makan dan minum. Dan untuk jenis kedua adalah mereka yang senantiasa menjaga indra dan pikirannya dari kejahatan serta menjaga tangan dan lidahnya dari menyakiti orang lain baik secara fisik ataupun dengan sikapnya. Bagi mereka Allah berjanji dalam sebuah hadis Qudsi “Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.” Dan mengenai kedua jenis puasa tersebut Rasulullah juga bersabda “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, satu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan lainnya ketika ia melihat.”

Kalangan ahli ilmu lahir mengatakan bahwa kegembiraan pertama orang yang berpuasa adalah ketika mereka makan setelah seharian berpuasa, dan arti kegembiraan ketika ia melihat adalah ketika orang yang berpuasa melihat hilal (bulan sabit) yang menandai akhir puasa dan datangnya hari raya. Sedangkan orang yang memahami makna batin mengatakan bahwa makna kegembiraan saat berbuka adalah kegembiraan orang yang berpuasa adalah ketika ia masuk surga dan merasakan kenikmatannya oleh sebab ia telah berhasil melewati ujian dari Allah. Sedangkan makna kegembiraan ketika ia melihat adalah ketika orang yang beriman melihat hakikat Allah dengan mata hatinya.

Puasa yang paling baik adalah puasa hakikat, karena puasa hakikat adalah puasa yang menjaga hati dari meyembah selain Allah SWT. Caranya adalah dengan membutakan mata hati dari segala yang ada, bahkan di alam hakikat di luar dunia ini sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah. Sebab, meski Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk manusia Dia menciptakan manusia untuk DiriNya sendiri. Dia berfirman “Manusia adalah hakikat-Ku, dan Aku adalah hakikatnya”. Hakikat itu adalah cahaya dari cahaya Illahi. Ia merupakan pusat hati, yang diciptakan dari materi terhalus. Ia adalah jiwa yang mengetahui semua rahasia hakikat; ia adalah hubungan hakiki antara makhluk dan Penciptanya. Hakikat itu tidak mencintai dan tidak membutuhkan apapun selain Allah SWT.

Tak ada yang pantas diharapkan, tak ada tujuan lain dan tak ada kekasih di dunia ini dan di akherat kecuali Allah. Puasa ruhani batal jika cinta kepada selain Allah, meski sebesar atom memasuki hati. Jika itu terjadi kita harus memulainya lagi, membangkitkan tekad dan niat untuk kembali kepada cinta-Nya di dunia ini dan akherat. Sebab Allah berfirman “Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Dalam sebuah kisah suatu ketika sepulang dari perang besar Rasulullah Saw. Bersabda kepada para pengikutnya, “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar” yaitu jihad melawan hawa nafsu dan syahwat. Dalam hadis lainnya Beliau bersabda, ”Musuh terbesar kalian berada dibawah tulang rusukmu” oleh sebab itu wahai saudaraku sekalian, marilah melalui bulan yang suci ini (puasa) kita mulai berusaha melawan hawa nafsu dan syahwat yang mungkin selama ini telah berhasil menguasai diri kita untuk mulai menjauh dari kebenaran. Karena ketahuilah bahwa cinta Ilahi takkan hidup memenuhi hatimu kecuali jika sang musuh, yakni nafsu, telah binasa dan meninggalkanmu.

Agar cinta Ilahi dapat menempati hatimu, pertama-tama kita harus menyucikan diri dari hawa nafsu yang menyuruh seluruh wujud kita kepada kejahatan. Setelah itu kita akan memiliki kesadaran meskipun tidak sepenuhnya bersih dari dosa. Kita akan memiliki rasa bersalah. Namun, perasaaan itu saja tidaklah cukup, karena kita juga harus melewati tangga yang menuju maqam penyikapan hakikat, baik hakikat kebaikan maupun keburukan. Setelah itu kita akan berhenti melakukan maksiat untuk hanya melakukan kebaikan. Dengan demikian kita telah menyucikan diri.

Untuk melawan nafsu, perangilah lebih dahulu nafsu hewani kita-sifat rakus-, tidur yang berlebihan, kelalaian-dan perangilah sifat hewan buas dalam dirimu: sifat buruk, amarah, keras dan kejam. Lalu, jauhkan diri kita dari kebiasaan jahat hawa nafsu: bersifat angkuh, sombong, iri, dendam, tamak dan semua penyakit lahir maupun batin. Setelah nya maka dengan menempuh langkah-langkah itu berarti kita telah melakukan pertobatan yang sebenarnya dan telah menyucikan diri. Untuk itu Allah berfirman dalam Al-Qur`an “Sesunguhnya Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri” (QS. Al-Baqarah [2]: 222).

Pertobatan tidak membutuhkan penyesalan semu. Sebab, bagitu banyak orang yang bertobat namun tobat mereka tidak diterima, sebagaimana firman Allah: Seberapa sering pun mereka bertobat, mereka tidaklah sungguh-sungguh bertobat dan tobat mereka tidak diterima. Penegasan ini mengacu pada perilaku banyak orang yang sekadar mengungkapkan penyesalan tanpa menyadari kesalahan mereka, dan tidak memiliki tekad yang kuat untuk tidak melakukan dosa lagi. Atau bahkan ia tetap saja tenggelam dalam Lumpur dosa. Itulah tobat orang awam, tobat lahiriah, yang sama sekali tidak berpengaruh pada penyebab dosa. Mereka ibarat orang yang ingin menghilangkan rumput dengan cara memotongnya bukan dengan mencabut hingga ke akar-akarnya. Padahal cara itu hanya akan membuat rumput semakin subur dan berkembang. Orang yang bertobat seraya menyadari kesalahan dan penyebabnya adalah seperti orang yang mencabut rumput hingga ke akar-akarnya. Alat yang digunakanpun juga sesuai dengan ajaran yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya melalui Al-Qur`an dan Sunnah.

Tobat terbagi kedalam dua macam, pertama, tobat orang awam. Tobat ini adalah dimana ia berharap meninggalkan kejahatan menuju ketaatan dengan cara mengingat Allah serta berusaha keras meninggalkan hawa nafsu dan menaklukan hasrat. Ia harus melawan nafsu yang selalu memberontak terhadap ajaran-ajaran Allah. Itulah tobat kaum awam yang mungkin akan menyelamatkannya dari siksa api neraka dan memasukannya kedalam surga.

Kedua, tobat seorang mukmin yang ikhlas. Tobat ini jauh berbeda karena mereka telah mencapai maqam makrifat, yang jauh lebih mulia daripada keadaan terbaik seorang awam. Sebenarnya tak ada lagi anak tangga yang bisa mereka naiki karena mereka telah meninggalkan kesenangan duniawi dan tengah merasakan kelezatan alam ruhani – nikmat kedekatan dan keintiman dengan Allah, kenikmatan menatap zat-Nya dengan mata kebahagiaan.

Saudaraku, hatimu adalah cermin yang kotor. Bersihkanlah debu yang melekatinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya hakikat Allah. Sehingga sekarang kepada kita umat Islam, dibulan yang suci dan penuh rahmat ini marilah kita berlomba-lomba dalam usaha memperbaiki diri dari kelakuan sebelumnya karena sungguh telah kecewa dan merugi bagi orang yang mendapatkan bulan Ramadhan tapi ia tidak berlomba dalam kebaikan di dalamnya dan belum diampuni. Padahal telah kita sadari bahwa kesempatan dan umur tidak bisa kita predikisi kapan akan ada dan berakhir.

Ya Allah Tuhan yang Maha Agung, karuniakanlah kami taubat dan jadikan pula kami hamba yang terus bersyukur, jadikanlah kami kembali kepada-Mu dengan wajah yang berseri-seri di yaumil akhir kelak. Amin.

Wallahu `alam bishshowwab

Yogyakarta, 23 September 2008
Mashudi Antoro (Oedi`).

[Telah diterbitkan di lembar Al-Rasikh – UII, September 2008]

2 thoughts on “Puasa Lahir dan Batin

    andika said:
    Agustus 8, 2010 pukul 11:20 am

    semoga di bulan ramadhan tahun ini kita khususnya dika mas bisa melakukan puasa lahir dan bathin… dan akan selalu terus berusaha mencari ridhaNya.. jangan bosan”nya menasehati dan mengajari dika ya mas hehehe…

      oedi responded:
      Agustus 11, 2010 pukul 5:52 am

      Amiiin…. semoga memang demikian adanya Dik,
      IsnyaAllah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s