RSS

Kisah Cinta Sejati Ali bin Abi Thalib RA dan Fathimah Az-Zahra RA

28 Apr

Sungguh beruntung bila diantara kita ada yang bisa mengikuti jejak cinta dari seorang Ali bin Abi Thalib RA dan istrinya Fathimah Az-Zahra RA. Karena keduanya adalah sosok yang memiliki cinta sejati yang mumpuni. Saling mengisi dan percaya dalam mengarungi bahtera kehidupan. Saling menenguhkan keimanan masing-masing kepada Allah SWT. Dan untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti kisah singkat tentang cinta sejati mereka:

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Namun, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

Umar ibn Al-Khaththab. Ya, Al-Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ’Umar.”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al-Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulullah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali pun ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulullah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ” ”Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!” ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi disana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak, itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan. ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu? ”Entahlah…” “Apa maksudmu?” “Menurut kalian apakah ’”Ahlan wa Sahlan” berarti sebuah jawaban!” ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang, bukan janji-janji dan nanti-nanti.

Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ” ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?” Sambil tersenyum Fathimah pun berkata; “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu”

Kemudian Nabi SAW bersabda: “ Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fathimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut”

Kemudian Rasulullah SAW. mendoakan keduanya: “Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak”

Yogyakarta, 28 April 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Disadur dari: kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4]

Baca juga kisah hidup mereka di link berikut ini: Suami yang cerdas dan istri yang shalehah dalam mengutangi Allah SWT

About these ads
 
35 Komentar

Ditulis oleh pada April 28, 2011 in Tulisan_ku

 

35 responses to “Kisah Cinta Sejati Ali bin Abi Thalib RA dan Fathimah Az-Zahra RA

  1. Andika

    April 29, 2011 at 12:14 am

    subhanallah…. salah satu cerminan bahwa jodoh sudah ditentukan Allah, tinggal kita berusaha untuk mencarinya.
    mas ditambahkan lagi tentang ujian dari rasulullah kalo ga salah dika pernah baca barang siapa yg menghafal alquran akan menjadi menantu rasulullah

     
    • oedi

      April 29, 2011 at 2:41 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya Dik, semoga bermanfaat.
      Yup. Semua yang ada di alam jagat raya ini adalah setiap dari ketetapan dari Allah SWT. Terutama dalam urusan jodoh maka tugas kita hanyalah berusaha menemukan yg terbaik dengan cara menjadikan diri sendiri sebagai yang terbaik terlebih dulu. InsyaAllah berkah kebaikan dan kebahagiaan akan di dapatkan dari-Nya.
      Hmm… itu cerita kan sudah mas sebutkan di buku; Kajian Hati, Isyarat Tuhan. Ya liat nanti deh, mas cermati perlu apa tidak di masukkan di tulisan ini.

       
  2. MarlinD

    Mei 23, 2011 at 3:50 am

    Subhanallah, ya akhi….

     
    • oedi

      Mei 23, 2011 at 4:04 am

      Iya akhi… semoga kita bisa memiliki cinta seperti mereka… :)
      Terimakasih atas kunjungan dan dukunganya, semoga bermanfaat.

       
  3. eka_rora_suci

    Juni 16, 2011 at 1:24 am

    subhanAllah,syukron akh buat tulisannya,kisah yg begitu indah,saya sangat suka dgn kata2 “Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan.”,termotivasi dari kisah ini,saya ingin mendapat jodoh yg trbaik,maka saya akn brusaha mnjadi yg trbaik,^_^,jzk

     
    • oedi

      Juni 16, 2011 at 2:28 am

      Amiiin… semoga mendapatkan sesuai dengan yg menjadi keinginan dan nilai dari setiap usaha kebaikanmu…
      Yap, benar sekali bahwa kunci untuk mendapatkan yang terbaik adalah menjadikan diri kita sendiri baik terlebih dulu, pasti Allah pun akan menepati janjinya…
      Terimakasih juga karena sudah mau berkunjung di tulisan sederhana ini, semoga bermanfaat.

       
  4. Jerry Situjuhsumpahthesaklarr

    Juli 22, 2011 at 11:58 pm

    Good

     
    • oedi

      Juli 23, 2011 at 6:33 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  5. ujie

    Juli 27, 2011 at 5:21 am

    izin copy ya?

     
    • oedi

      Juli 27, 2011 at 7:55 am

      oh silahkan, asalkan tetap menyertakan sumbernya… terimakasih.

       
  6. Parlina Wi

    September 1, 2011 at 5:57 am

    mantep kisahnya…. jadi ingat sebuah judul bab dalam sebuah buku, kalo tidak salah bukunya salim A Fillah.. “mencintai Sejantan Ali”

     
    • oedi

      September 8, 2011 at 5:29 am

      Okey… wah ternyata Anda suka baca ya? bagus tuh….
      makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  7. RANGGA

    September 20, 2011 at 11:46 am

    baguzz

     
    • oedi

      September 25, 2011 at 6:27 am

      Terimakasih… semoga bermanfaat… :)

       
  8. Mahatma

    November 18, 2011 at 10:56 am

    Ini salah satu blog terhebat yang pernah saya kunjungi,,
    Terus bercerita Kang Oedi,,
    Anda “jempolan” ,,,

     
    • oedi

      November 19, 2011 at 3:21 am

      Subhanallah… Hanya Dia-lah yang hebat dan berkehendak… sedangkan saya ini hanyalah hamba yang hina dan tidak ada apa-apanya.. :)
      Waduh.. jangan berlebihan seperti itu mas, ini cuma blog sederhana karena saya masih terus belajar untuk kian memperbaiki diri… Mas Mahatma lah yang hebat karena sudi berkunjung ke blog ini dan memberikan dukungan.. dan ketika sekilas saya lihat blog Anda – hobi sastra juga ya? -, maka Andalah yang lebih hebat daripada saya.. salut deh :)
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  9. Bintun Zahrah

    Desember 4, 2011 at 5:31 pm

    aku pernah membaca sebuah buku yg mengulas tentang Fatimah.. dan aku sangat mengagumi sosok seorang putri nabi ini. . . aku ingin belajar dari seorang Fatimah Az Zahra

     
    • oedi

      Desember 9, 2011 at 7:39 am

      Oh ya.. wah bersyukur banget ya bisa memperdalam tentang kehidupan wanita mulia ini, semoga terkabul deh apa yg di harapkan.. :)
      Saya pun sangat mengagumi sosok wanita mulia ini, beliau ini kan – sesuai sabda Rasulullah SAW – yg bakal menjadi pemimpin wanita di Syurga nanti. Sehingga otomatis harus menjadi idola kaum Muslimah… semoga banyak dari umat ini mau menjadikan beliau sebagai idola dan bukan malah para artis yg gak jelas kebenaran kehidupannya…
      Okey, makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  10. galang

    Desember 16, 2011 at 8:48 pm

    subhanallah, ini baru namanya cinta atas nama Allah…

     
    • oedi

      Desember 20, 2011 at 3:27 am

      Ya begitulah cinta yang sejati, sehingga mendatangkan kebahagiaan yang hakiki pula… semoga kita bisa sedemikian rupa..
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  11. anonymous

    Januari 13, 2012 at 11:45 pm

    Subhanallah….
    hhhmmm… menjadi semakin yakin dgn apa yg sudah ditetapkn Allah tntang jodoh…
    terimakash atas tulisannya…membuat saya semakin yakin utk menjga hati ini yg sedang diserang virus merah jambu… =)

     
    • oedi

      Januari 16, 2012 at 12:29 pm

      Okey.. sama2 deh, semoga mendatangkan manfaat.. :)
      Seeep… mari kita bersama-sama menjaga hati dari sesuatu yang tidak baik (Zina, maksiat, dll), agar mendapat apa yang diinginkan dan memenuhi kawajiban sebagai makhluk bernama manusia di hadapan Allah SWT. Masalah jodoh, serahkan saja kepada Yang Menentukan jodoh, tugas kita adalah berusaha dalam menjaga hati dan berbuat sebaik mungkin dalam kehidupan… biar Dia yang memilih jodoh kita, sesuai dengan janji-Nya sendiri… :)

       
  12. Muhammad nasir

    Februari 26, 2012 at 2:20 pm

    Allahu akbar…
    Dan itulah kegembiraan sya mmbc artikel ini.

     
    • oedi

      Februari 28, 2012 at 2:41 pm

      Subhanallah… syukurlah bila demikian..
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… :)

       
  13. mayleenda

    April 22, 2012 at 3:30 am

    Reblogged this on mayleenda.

     
  14. Euis.R

    Juli 6, 2012 at 4:52 am

    Subhanallah..Terimakasih sdh berbagi kisah ttg keluarga Baginda Nabi yg sangat saya cintai. Sungguh kisah yg indah..semoga saya mendapatkan jodoh yg terbaik dr Allah SWT..aamiin..

     
    • oedi

      Juli 6, 2012 at 1:55 pm

      Iya sama2, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Aamiin.. saya doakan mbaknya bisa mendapatkan pendamping yang sesuai dengan keinginan dan semoga pula dia adalah pribadi yang shalih di mata Allah SWT.

       
  15. DonghaeEunhyuk

    Desember 8, 2012 at 10:30 am

    good! ^^d sering sering pos yg kyk gini ya ^^

     
  16. feny edogawa

    Januari 4, 2013 at 1:28 pm

    subhanallah.
    amazing banget.

     
  17. Fica sari febriana

    Januari 18, 2013 at 5:01 am

    Subhanallahh.. ^_^ saya sampai terharu membaca ceritanya @.@

     
  18. niswatul afiyah

    Februari 22, 2014 at 2:38 pm

    subhanallah

     
    • oedi

      Februari 25, 2014 at 7:26 am

      Alhamdulillah..
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: