Perjalanan Oedi_ku

Salam kebahagiaan penuh cinta untuk kita semua….

Arsip untuk Oktober, 2008

Kemuliaan Cinta…

Ditulis oleh oedi di/pada Oktober 28, 2008

Bujukan sanubari yang resah hanya ketika terdiam dan tidak bercerita terus memotovasi keduanya bersama dalam biduk kemesraan. Dan ini terus bertahan oleh karena keduanya benar-benar terlarut didalam kemuliaan sebuah cinta. Tidak dengan cinta yang sesaat saja, melainkan sebuah ruh kehidupan yang secara keseluruhan merenggut kendali seorang hamba dalam berprilaku. Sebuah cinta yang senantiasa mengawal dengan bijak perjalan kakinya untuk melangkahi lorong-lorong kehidupan. Cinta yang dengannya itu pula telah berhasil membawa keduanya bersama kasih dan sayang. Untuk kemudian berpadu bersama kesetiaan dan pengabdian yang tulus.

 ” Ya Tuhan, Engkau adalah segala Maha, maka dari itu aku bermohon kepadamu sebagai hamba yang hina ini untuk dapat merengguh secuil kenikmatan darimu, aku juga senantiasa berharap Engkau sudi menerima permohonanku untuk senantiasa menempuh sebuah kebahagiaan seperti yang telah kami alami pada saat ini, dimana aku dan dia duduk bersama dalam keindahan pertemuan. Taburi pula rasa yang tersirat seperti pada saat ini dengan keinginan untuk dapat terus mengulur silaturahmi dan kepercayaan. Karena sejatinya telah sangat aku rasakan kebahagiaan dan keindahan yang luar biasa ketika aku bisa bertemu dan memandang dirinya yang tidak mudah terkikis oleh kesombongan duniawi.”

[Tulisan diatas adalah penggalan dari novel terbaruku]

Ditulis dalam Buku_ku, Puisi_ku | Leave a Comment »

Berbagi Makanan dalam Islam

Ditulis oleh oedi di/pada Oktober 28, 2008

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”  (QS. Al-Baqarah [2]: 172)

 

Bulan suci Ramadhan memang telah berlalu meninggalkan kita. Akan tetapi ia tetap sebagai bulan yang penuh dengan kenikmatan baik kenikmatan atas beribadah kepada Allah juga kenikmatan yang terlahir atas dasar pemenuhan kebutuhan jasad jasmani (lahir). Untuk jenis kedua yaitu kenikmatan lahir dapat kita rasakan seperti yang kita lihat dipasar-pasar dadakan, kios makanan, warung, rumah makan, bahkan disetiap rumah kita bahwasannya ketika akan menjelang berbuka puasa maka akan banyak aneka macam hidangan dan ragam makanan yang enak dan baik telah tersedia. Dan tentunya ini adalah sebagian dari kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan untuk kita rasakan. Maka dari itu makanlah apapun yang kamu kehendaki, hingga kamu merasa kenyang dan lantunkanlah puja syukur/tahmid kepada Allah atas segala limpahan rizki-rizki itu.

Tetapi dilain sisi saya hendak mengingatkan terutama kepada diri sendiri dan jamaah sekalian dengan sebuah perkara yang mungkin selama ini telah kita lupakan yaitu sebuah sabda Rasulullah “Jika kamu memasak masakan berkuah maka perbanyaklah airnya, dan berilah tetangga-tetanggamu….”. Dan dahulu hal seperti diatas yaitu saling memberi makanan/masakan itu biasa terjadi diantara para tetangga. Anda boleh bertanya kepada nenek/kakek kita atau mereka yang sudah lanjut usia. Akan tetapi hari ini kelihatannya sudah jarang sekali kita mendengar tentang potret-potret indah dalam hal memberikan/berbagi makanan ini karena kita telah mengira bahwa orang-orang tidak akan menerimanya, semua orang sudah kenyang bahkan terkadang kita memandang bahwa itu sudah ketinggalan zaman. Sehingga setiap orang menutup pintu rumahnya dan makanan yang tersisa dibuang begitu saja. Padahal mungkin disekitar kita masih banyak para tetangga yang kelaparan atau sulit mencari meskipun hanya sesuap nasi untuk menyambung hidupnya.

Saudaraku sekalian, dengan memperhatikan perihal diatas dan jika seandainya  kita mempunyai kelebihan cobalah dari sekarang kita mulai untuk memberikan/berbagi makanan, niscaya Anda akan merasakan kenikmatan saat mengambil – misalnya – sisa buah-buahan, roti atau bahkan sisa lauk pauk yang ada, lalu Anda memberikannya kepada seorang pekerja miskin atau keluarga fakir, sekalipun untuk hal itu Anda harus jauh berjalan kaki atau kendaraan guna menyampaikan kepada mereka. Bahkan untuk dataran yang lebih tinggi lagi maka berbagi makanan ini tidak terbatas hanya kepada orang-orang fakir dan miskin saja, akan tetapi juga kepada para tetangga yang sederajat. Mengapa demikian?, itu tidak lain bertujuan untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dan ukhuwah islamiyah kita sesama umat, sehingga kedepannya akan lahirlah masyarakat yang madani.

Dengan sikap mau berbagi makanan dengan orang lain maka dampak positif yang ditimbulkannya tidak hanya bagi setiap orang yang kita beri/butuhkan saja akan tetapi juga bagi mereka yang tidak membutuhkan sekalipun, mereka akan merasakan senang dengan perhatian tetangga (Anda) kepadanya. Sehingga tujuan mulia hubungan silaturahmi dan ukhuwah islamiyah yang terus di anjurkan oleh agama kita Islam akan bisa cepat terwujud.

Saudaraku, bayangkan bahwa suatu ketika ada tetangga Anda atau anaknya mengetuk pintu rumah Anda dengan membawa bungkusan makanan, dan mengatakan “Tetanggga kami yang mulia, kami ingin malam ini Anda ikut menikmati makanan ini bersama kami. Kami harap dukungannya untuk kami dan Anda mau menerimanya.” Dan ternyata makanan itu hangat dan lezat, di saat yang mungkin kita sendiri belum mampu melakukan yang semisal itu walaupun bukan karena kelalaian/ketidakmampuan kita. Hal itu tentu akan menambah baik hubungan diantara para tetangga satu sama lain. Dan agama kita  sangat menganjurkan untuk itu.

Dengan melihat contoh diatas lantas mengapa masih saja diantara kita banyak yang melupakan atau tidak mau melakukan hal yang serupa, padahal bisa kita lihat manfaat/dampak baik yang di dapatkan olehnya. Dimana tidak hanya perasaan bahagia atau senang saja terasakan dihati akan tetapi mungkin dilain sisi jika kita memerlukan pertolongan maka para tetanggalah yang akan lebih dulu membantu. Karena sebelumnya mereka telah merasakan senang terhadap kita atas pemberian yang ikhlas itu.  

Saudaraku, adalah suatu kenikmatan dari Allah Ta`ala bahwasannya seperti sekarang ini kita telah hidup di zaman yang serba maju ini. Dan menyangkut makanan maka fasilitas kulkas yang ada seperti pada saat ini telah pula banyak membantu kita untuk dapat menyimpan beberapa jenis makanan selama beberapa waktu. Namun seiring itu pula banyak diantara kita yang dengan sengaja memanfaatkan kulkas hanya sebatas untuk menumpuk materi saja padahal mungkin pada dasarnya apa yang kita simpan itu sebenarnya tidak begitu diperlukan dan kemudian lupa dengan kewajiban untuk memperhatikan keadaan orang-orang yang hidup disekitarnya. Sudahkah kita berpikir untuk menyedekahkan sebagian kepada mereka yang membutuhkan sebelum ia menjadi tidak bisa dimakan (rusak/basi) karena lamanya berada di dalam kulkas.

Mungkin bagi kita makanan yang tidak benar-benar kita butuhkan itu sebenarnya tidak berarti karena kita dengan mudahnya mampu membeli, namun bagi sebagian saudara kita yang serba kekurangan itu sungguh sangat berarti sekali. Mengapa kita tidak membelanjakan materi yang jauh lebih kita butuhkan atau daripada membeli yang tidak penting maka sebaiknya uang yang di keluarkan itu kita belanjakan/berikan saja kepada yang jauh lebih membutuhkan, seperti kaum fakir, miskin, orang jompo, anak yatim dan piatu. Dan jika kita menyadari akan kesalahan dan mau untuk merubah kebiasaan buruk itu maka seyogyanya ia akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi keduabelah pihak yang terkait. Kepada si pemberi, ia akan mendapatkan imbalan pahala dan ridho dari Allah Swt. Sedangkan bagi si penerima maka kebahagiaan lahir batin akan dirasakan karena kebutuhannya bisa terpenuhi. Untuk itulah Allah berfirman dalam Al-Qur`an Surat An-Nissa ayat 36 yang artinya “…….Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…..”

Dengan memperhatikan penjabaran diatas, terlihat bahwasannya Islam adalah sebuah ajaran yang akan membawa siapa saja kepada kebaikan dan kesejahteraan. Betapa tidak dengan kita bisa dan mau mengikuti tuntunan-Nya maka di dalam kehidupan sosial yang bagaimanapun bentuknya maka dengan sendirinya kita akan menjalaninya dalam keharmonisan dan kebahagiaan. Memang Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda, ada yang kaya dan adapula yang miskin. Namun dengan kesadaran untuk mau sekedar menyisihkan sebagian harta seperti contoh diatas maka akan dapat mengurangi kesenjangan sosial yang ada di dalam setiap kehidupan masyarakat. Dan mungkin kedepannya kelak akan ada sebuah masyarakat yang jauh dari penderitaan, baik yang ditimbulkan oleh faktor ekonomi, kesehatan, politik ataupun oleh sebab-sebab lainnya. Sehinggga Islam yang Rahmatan lil alamin itu bisa terwujud dalam kehidupan sehari-hari kita.

Saudaraku, mari mulai dari sekaranglah dan mulai dari bulan Syawal ini kita wujudkan sikap untuk dapat saling memperhatikan dan membantu sesama, baik dengan saling berbagi makanan ataupun yang lainnya. Karena dengan memulai sesuatu dari yang kecil itulah maka akan bisa memberikan hasil yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita dengan rahmat dan hidayah, sehingga kita dapat menjalankan semua yang telah dituntunkan-Nya dengan ikhlas dan penuh kesadaran.

Wallahu `alam

[Penulis: Mashudi Antoro, Oktober 2008]

Ditulis dalam Tulisan_ku | Leave a Comment »

Jauh lebih…

Ditulis oleh oedi di/pada Oktober 22, 2008

Sebuah cinta terkadang akan jauh indah dan nikmat terasa ketika bisa dan mau dinikmati dalam beberapa kegagalannya. Karena setiap perjalannya akan senantiasa memupuk kesejatian dan cinta suci untuk kemudian sepenuhnya diserahkan kepada satu belahan hati, tulang rusuk yang lama terpisah oleh jarak dan waktu….

Ditulis dalam Puisi_ku | Leave a Comment »

Oh memory…

Ditulis oleh oedi di/pada Oktober 22, 2008

Dalam diam kurasa jiwaku terus terbentur dan berbenturan
Diantara kebahagiaan dengan perpisahan cintaku dulu bersamanya
Pikiranpun terhuyun dan terseyok di ujung kenangan dan awal kehidupan barunya
oh.. memory tegarkan aku….

Ditulis dalam Puisi_ku | Leave a Comment »